Rupiah Terperosok ke Rp17.885, Tertekan Geopolitik Global dan Kebijakan Dagang AS

- Selasa, 02 Juni 2026 | 11:15 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp17.885, Tertekan Geopolitik Global dan Kebijakan Dagang AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp17.885 pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Depresiasi yang mencapai 80,5 poin ini menjadi indikasi tekanan baru terhadap mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pelemahan tajam yang terjadi hari ini dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik internasional yang memanas serta gejolak kebijakan dagang di Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut, menurutnya, menciptakan sentimen negatif yang mendorong penguatan indeks dolar secara signifikan.

Di panggung global, sikap apatis Iran terhadap Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan. Iran dilaporkan tidak lagi meneruskan pesan berupa draf-draf nota kesepahaman kepada Pakistan. Di sisi lain, negara tersebut menuntut agar kesepakatan damai dengan AS juga mencakup wilayah Libanon, serta memunculkan indikasi kuat akan keterlibatan mereka dalam konflik Israel-Libanon.

“Iran kemungkinan besar akan ikut campur dalam perang Israel-Libanon, yang membuat ketegangan tersendiri sehingga indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).

Selain isu Timur Tengah, sentimen negatif global diperparah oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang menandatangani proklamasi perubahan tarif impor untuk komoditas tembaga, aluminium, dan besi. Kebijakan ini menaikkan tarif menjadi 15 persen, dari sebelumnya yang direncanakan hanya sebesar 10 persen. Langkah tersebut diambil Trump setelah sebelumnya melakukan pemecatan terhadap Jaksa Agung yang menjabat, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan perang dagang Trump ilegal.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh tingginya volume impor minyak mentah Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari. Kenaikan harga minyak mentah dunia otomatis mendongkrak permintaan dolar AS dalam jumlah besar untuk mendanai operasional impor tersebut. Sebanyak 85 persen dari total pasokan minyak impor digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak bersubsidi.

Ibrahim menambahkan, sentimen positif dari rencana penerapan regulasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri belum mampu menahan kejatuhan rupiah. Hal ini disebabkan belum adanya kepastian penuh dari para pelaku usaha.

“Nah, walaupun kemarin rupiah sempat mengalami penguatan akibat DHE yang akan diterapkan di dalam negeri, ini pun juga masih belum ada keputusan pasti. Karena kita harus melihat bahwa para eksportir Indonesia juga pasti ada kerja sama dengan luar negeri tentang masalah penempatan DHE tersebut,” kata Ibrahim.

Guna meredam potensi lonjakan inflasi, Bank Indonesia diproyeksikan akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin atau satu persen sampai akhir tahun. Kenaikan kemungkinan akan dimulai sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan Juni ini.

Ibrahim menilai, opsi penguatan rupiah dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kesiapan pemerintah untuk menarik pinjaman atau utang baru dari lembaga donor internasional, seperti Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, yang telah memberikan sinyal kesiapan bantuan. Namun, opsi ini menuntut konsekuensi penandatanganan kesepakatan yang berat.

“Nah, kalau seandainya menerima, berarti banyak sekali nota kesepahaman yang nanti harus ditandatangani dari pemerintah, terutama tentang masalah subsidi. Subsidi harus dibuang, subsidi harus dihapuskan. Itulah keinginan dari Bank Dunia maupun IMF. Itu salah satu cara untuk menguatkan mata uang rupiah,” jelas Ibrahim.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar