Setelah menghilang beberapa hari dari publik konon karena luka-luka akibat serangan udara pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, akhirnya muncul dengan pernyataan keras. Ia memerintahkan pasukannya untuk serius memblokade Selat Hormuz. Perintah itu disampaikannya tanpa basa-basi, menegaskan agar jalur air vital itu benar-benar ditutup untuk kapal-kapal yang melintas.
“Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan,” tegas Khamenei dalam pernyataannya, Kamis lalu. Padahal, selat sempit itu biasanya jadi jalur bagi seperempat perdagangan minyak dunia. Pernyataannya ini sekaligus mengakhiri spekulasi soal kondisinya pasca-serangan.
Namun begitu, ancaman tak berhenti di situ. Mojtaba, yang naik setelah ayah dan pendahulunya Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan AS-Israel, juga menyerukan balas dendam. Ia mendesak negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
“Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita,” ucapnya, dengan nada penuh amarah.
Reaksi dari Garda Revolusi pun datang cepat. Komandan Angkatan Laut mereka, Alireza Tangsiri, langsung menyatakan kesiapan. Ia berjanji akan menghantam AS dan Israel, sambil tetap menjalankan strategi penutupan Selat Hormuz.
“Sebagai tanggapan atas perintah panglima tertinggi, kami akan memberikan pukulan terkeras kepada musuh agresor,” kata Tangsiri. Targetnya jelas: mempertahankan blokade sambil melancarkan serangan balasan.
Efeknya sudah terasa. Di bawah tekanan Iran, aktivitas pengiriman di sekitar Selat Hormuz nyaris mandek selama beberapa hari belakangan. Beberapa kapal yang nekat melintas bahkan dilaporkan menjadi sasaran di perairan Teluk, dekat Uni Emirat Arab dan Irak. Situasinya makin mencekam.
Di sisi lain, gejolak ini menciptakan tekanan politik besar bagi Presiden AS Donald Trump. Dampak ekonomi global akibat krisis ini kian nyata, dan pesan-pesan yang keluar dari Washington terkesan plin-plan. Trump sendiri tampak bingung menentukan kapan serangan udara AS ini akan berakhir.
Saat harga minyak melambung di atas angka 100 dolar AS per barel, Trump malah menulis di media sosial. Fokusnya agak melompat. “Yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya, sebagai Presiden, adalah menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, agar tidak memiliki Senjata Nuklir,” tulisnya. Menurutnya, hal itulah yang bisa menghancurkan Timur Tengah bahkan dunia.
Jadi, situasinya seperti ini: ancaman blokade di satu sisi, tekanan pasar dan politik di sisi lain. Semuanya berbaur jadi satu krisis yang ujungnya masih gelap.
Artikel Terkait
Hizbullah Serang Pasukan Israel di Lebanon Selatan, Balas Tewasnya Satu Tentara
Wakil Ketua Komisi III DPR Desak Penutupan Permanen Daycare Little Aresha Usai 13 Tersangka dan 53 Anak Jadi Korban
Pemadaman Lampu saat Hari Bumi di Jakarta Hemat Listrik Rp140 Juta dan Tekan Emisi 77,5 Ton CO2
Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, Sebut Bentuk Persahabatan dengan Ahmad Dhani