Tak cuma itu. Kedua pihak juga berencana menggelar kegiatan bersama yang akan jadi bagian dari World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Riefky menyambut baik rencana ini.
"Kami menyambut baik inisiatif dan komitmen dari UNCTAD, khususnya terkait usulan kegiatan bersama yang dapat memperkuat jejaring global, membuka peluang kolaborasi bisnis, serta meningkatkan promosi produk kreatif kita di pasar internasional,"
katanya.
Dukungan UNCTAD bahkan lebih jauh lagi. Lembaga ini menawarkan dukungan teknis dan kebijakan untuk Indonesia, misalnya dalam menguatkan Rencana Induk Ekraf dan menyusun skema pembiayaan yang memanfaatkan Kekayaan Intelektual. Bantuan untuk analisis Undang-Undang Ekraf juga masuk dalam pembicaraan.
Bagi Riefky, semua kerja sama ini punya arti strategis yang dalam. Ia meyakini kolaborasi ini akan jadi fondasi penting untuk transformasi ekonomi nasional, yang mengandalkan kreativitas dan inovasi.
“Kolaborasi dengan UNCTAD ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekraf dunia, sekaligus memperluas kontribusi sektor ekraf terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),”
pungkasnya.
Sebagai informasi, UNCTAD adalah badan PBB yang fokus pada pembangunan berkelanjutan, terutama di negara berkembang. Lembaga ini dikenal sebagai penyedia data, penelitian, dan rekomendasi kebijakan terkait perdagangan dan investasi global.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas