Di ruang Graha Makarti Bhakti Nagari, Kampus ASN Corporate University LAN, Jakarta Pusat, suasana tampak serius namun penuh antusias. Senin lalu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, hadir sebagai pembicara utama. Acara itu adalah Pameran Proyek Perubahan dan Seminar Nasional Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I, yang dihadiri oleh puluhan pejabat eselon I dan II dari berbagai instansi.
Tampak hadir mendampingi, Kepala LAN Muhammad Taufiq dan Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN, Tri Widodo Wahyu Utomo. Mereka bersama sekitar 40 peserta lainnya menyimak paparan Gus Ipul yang kali ini berfokus pada implementasi visi Presiden Prabowo Subianto.
Gus Ipul dengan tegas menyatakan bahwa birokrat harus jeli menerjemahkan visi-misi presiden ke dalam program nyata. Program itu harus benar-benar menyentuh keluarga miskin, salah satunya lewat terobosan bernama Sekolah Rakyat.
“Sekolah rakyat ini menarik. Ini adalah gagasan Bapak Presiden, yang terus terang saya sangat terharu karena presiden punya atensi luar biasa terhadap kelompok bawah yang perlu dibela,”
Katanya begitu. Sekolah Rakyat disebutnya sebagai kebijakan afirmatif yang lahir dari kepedulian presiden terhadap keluarga miskin di desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional.
Yang jadi perhatian utama, lebih dari empat juta anak usia sekolah ternyata tidak mengenyam pendidikan. Entah karena tidak bersekolah, putus di tengah jalan, atau lingkungannya sama sekali tidak mendukung. Mayoritas berasal dari keluarga paling miskin. Karena itulah, menurut Gus Ipul, diperlukan model pendidikan yang benar-benar berbeda.
Presiden kemudian menetapkan format Sekolah Rakyat berbasis boarding school. Tujuannya jelas: agar anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2 bisa belajar dalam lingkungan yang aman dan terstruktur.
“Tidak ada pembukaan pendaftaran yang ada adalah seleksi berdasarkan desil, dikunjungi rumahnya, (bila) cocok, masuk SD, SMP, SMA. Tentu ada proses pembelajaran yang sudah disiapkan,”
Jelasnya.
Namun begitu, pendekatannya tidak berhenti di situ. Sekolah Rakyat juga dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
“Anaknya nanti sekolah, orang tuanya diberdayakan, rumahnya yang tidak layak huni dibantu. (Orang tuanya) didorong untuk menjadi anggota Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),”
Ujar Gus Ipul.
“Kalau dia jadi anggota KDMP nanti dia sebagai pembeli sekaligus pemilik. Dia misalnya menerima bansos, belanjanya di KDMP, nanti setiap akhir tahun dia akan dapat sisa hasil usaha (SHU),”
Tambahan dari dia.
Belum cukup sampai di sana. Seluruh keluarga peserta juga akan mendapat fasilitas JKN, Cek Kesehatan Gratis, serta Makan Bergizi Gratis bagi lansia dan penyandang disabilitas.
“Jadi dengan demikian ini nanti kalau berhasil akan menjadi model,”
Kata Gus Ipul.
Tahun ini, program rintisan sudah menampung hampir 16 ribu siswa. Targetnya melonjak jadi 40 ribu siswa di 2026, lalu di atas 100 ribu di 2027, dan bahkan melampaui 200 ribu di tahun berikutnya. Harapan presiden, setiap kabupaten/kota punya setidaknya satu Sekolah Rakyat.
“Harapan presiden setiap kabupaten/ kota memiliki satu Sekolah Rakyat dengan kapasitas seribu siswa SD, SMP, SMA. Kalau sampai ada 500 sekolah permanen maka bisa menampung 5 ribu atau 500 ribu siswa lebih,”
Ucapnya.
Di sisi lain, Gus Ipul menegaskan bahwa tujuan akhir program ini bukan sekadar meluluskan anak. Lebih dari itu, mendorong seluruh keluarganya naik kelas secara ekonomi sehingga tidak lagi bergantung pada bantuan sosial.
“Intinya anaknya lulus keluarganya naik kelas, sudah tidak boleh terima bansos lagi, jadi bareng ini. Ini inovasi dan satu paradigma baru yang terintegrasi di era Bapak Presiden Prabowo,”
Jelasnya lagi.
Di akhir paparannya, Gus Ipul mengajak seluruh peserta untuk memimpin perubahan dengan memahami paradigma baru pembangunan sosial. Kementerian Sosial, katanya, sedang berupaya membentuk cara pandang baru di masyarakat.
“Kita sedang bekerja bagaimana kita merupakan mindset publik, bahwa bansos sementara, berdaya selamanya,”
Tegasnya.
Penutupnya, ia mengajak para birokrat dari berbagai instansi untuk bersatu dan bergerak bersama mengentaskan kemiskinan.
“Kemiskinan adalah isu yang menyatukan tanggung jawab. Birokrasi harus menjadi bahasa pemersatu, transformasi tidak terjadi di podium, tetapi terjadi di lapangan dan kepemimpinan birokrasi adalah penggeraknya,”
Demikian Gus Ipul menutup paparannya, meninggalkan pesan yang dalam di ruang seminar itu.
Artikel Terkait
Chelsea Tumbang di Kandang Meski Dominan, Manchester United Curi Poin Penuh
PDIP Nilai Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Trump Tak Lagi Relevan
Lazio Tundukkan Napoli 2-0 di Stadion Maradona
Hoffenheim Hancurkan Harapan Dortmund dengan Kemenangan Dramatis di Menit Akhir