Laporan keuangan PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) untuk tahun 2025 akhirnya dirilis, dan angkanya cukup menggembirakan. Perusahaan konstruksi dan jasa penunjang ini membukukan laba komprehensif yang mencapai Rp200,83 miliar. Pencapaian ini, tak bisa dipungkiri, berjalan beriringan dengan geliat aktivitas di proyek-proyek pertambangan nikel yang mereka tangani.
Di sisi lain, pendapatan perseroan juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, MINE mencatatkan pendapatan senilai Rp2,36 triliun. Angka ini naik sekitar 11,8 persen jika dibandingkan dengan realisasi di tahun sebelumnya yang berada di level Rp2,11 triliun.
Menurut Direktur Utama Sinar Terang Mandiri, Ivo Wangarry, pertumbuhan ini memang sejalan dengan ekspansi operasional perusahaan.
"Kami bersyukur perseroan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperkuat struktur aset di tengah berbagai tantangan operasional," ujar Ivo dalam keterangan resminya, Kamis (12/03/2026).
Ia menambahkan, "Hal ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi operasional dan penguatan kapasitas produksi yang kami jalankan mulai memberikan hasil positif."
Kalau dirinci, kontribusi terbesar tentu saja datang dari segmen jasa penambangan yang menyumbang Rp2,18 triliun. Namun yang menarik, segmen jasa konstruksi justru menunjukkan lompatan luar biasa. Kontribusinya melonjak lebih dari 12 kali lipat menjadi Rp180,10 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya yang masih sangat kecil.
Kinerja ini tentu bukan datang tiba-tiba. Dukungan dari sejumlah mitra strategis di industri pertambangan punya peran krusial. Sepanjang tahun lalu, kontribusi pendapatan terbesar berasal dari kerja sama dengan PT Weda Bay Nickel. Disusul kemudian oleh PT Hengjaya Mineralindo dan PT Sulawesi Cahaya Mineral.
Yang juga patut dicatat, struktur aset perseroan ikut menguat. Total aset MINE melonjak 28,6 persen menjadi Rp2,07 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp1,61 triliun di tahun 2024.
Ivo menjelaskan lebih detail soal hal ini. Peningkatan total aset terutama ditopang oleh kenaikan aset tidak lancar yang tumbuh pesat sebesar 48,5 persen, menjadi Rp988,77 miliar.
"Kenaikan itu mencerminkan investasi perseroan dalam mendukung kegiatan operasional, termasuk penguatan armada alat berat dan infrastruktur penunjang kegiatan penambangan," jelasnya.
Ini semua merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Tujuannya jelas: meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas layanan yang diberikan kepada setiap mitra kerja.
Ke depan, Ivo menyebut diversifikasi proyek dan penguatan kemitraan akan tetap jadi faktor penjaga stabilitas kinerja. Perseroan pun terus membuka peluang untuk kerja sama baru dengan berbagai mitra strategis.
Optimisme itu tetap terpelihara. Menurut Ivo, prospek industri nikel nasional masih sangat menjanjikan, seiring dengan permintaan global yang terus meningkat.
"Perseroan akan terus memperkuat kapasitas operasional, termasuk memperluas lini usaha baru, dan tentunya tetap menjaga kualitas layanan," tutup Ivo.
Dengan kinerja tahun 2025 yang solid, langkah MINE ke depan tentu akan banyak diantisipasi para pemangku kepentingannya.
Artikel Terkait
Bapanas Izinkan Penggunaan Kemasan Beras SPHP Tahun 2023–2025 Akibat Kelangkaan Bahan Baku Plastik
Pendapatan Berulang Dominan, Pondok Indah Group Diproyeksi Raup Laba Bersih Rp1,2 Triliun pada 2026
Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti dan Obligasinya Imbas Penundaan Kupon
ALII Raih Kredit Investasi Rp494,5 Miliar dari BRI untuk Ekspansi Armada