Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang dinobatkan sebagai wasit terbaik Afrika tahun 2026, mengalami penolakan masuk ke Amerika Serikat saat hendak memimpin pertandingan Piala Dunia 2026. Pemerintah AS menduga ia memiliki keterkaitan dengan organisasi teroris, sementara FIFA menyatakan tidak memiliki wewenang untuk campur tangan dalam proses imigrasi negara tuan rumah.
Omar Artan tiba di Bandara Miami dengan membawa dokumen perjalanan yang lengkap. Namun, ia langsung ditolak masuk dan menjalani interogasi selama lebih dari 11 jam sebelum akhirnya ditahan dan diterbangkan kembali ke Istanbul, tempat ia memulai perjalanan. Pemerintah AS tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan penolakan tersebut kepada publik.
Sumber dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang dikutip oleh The Athletic mengungkapkan bahwa keputusan itu didasari oleh temuan yang menghubungkan Omar dengan anggota organisasi teror. Seorang pejabat senior Gedung Putih menyatakan bahwa setelah pemeriksaan lanjutan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP), ditemukan informasi yang merugikan, termasuk dugaan keterkaitan dengan tersangka anggota organisasi teror.
“Informasi itu membuat pelancong tersebut tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Amerika Serikat berdasarkan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA),” ujar pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa pelancong itu kemudian ditolak masuk dan diberikan formulir imigrasi yang berisi dasar hukum untuk deportasi cepat berdasarkan pasal 8235 INA. “Pemerintahan Presiden Trump tidak akan membiarkan ancaman keamanan apa pun memasuki negara kami titik,” tegasnya.
Peristiwa ini memicu kritik terhadap FIFA, yang sebelumnya menjamin tidak akan ada diskriminasi terhadap peserta dan ofisial selama Piala Dunia 2026. Namun, FIFA menegaskan bahwa mereka tidak memiliki kewenangan dalam proses imigrasi negara tuan rumah.
“FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk penentuan visa, dan telah diberitahu oleh pihak berwenang bahwa status Tuan Artan tidak akan diubah saat ini,” jelas Juru Bicara FIFA.
“Seperti pada event-event FIFA sebelumnya, negara tuan rumah yang menentukan siapa yang mendapat visa dan diperbolehkan masuk ke wilayah mereka,” tambahnya.
Di sisi lain, pihak Imigrasi AS menyatakan bahwa kebijakan penerimaan pelancong dapat berubah sesuai kondisi di lapangan, sehingga pemilik visa pun berpotensi ditolak masuk. Kondisi ini menegaskan bahwa pemerintah AS memegang kendali penuh atas siapa yang boleh memasuki wilayahnya, termasuk dalam konteks acara internasional sebesar Piala Dunia.
Artikel Terkait
Inggris Hancurkan Kosta Rika 3-0, Tuchel Puji Kesiapan Tim Jelang Piala Dunia 2026
Madura United Gaet Legenda Persib Hilton Moreira sebagai Analis Tim untuk Musim 2026/2027
Barcelona Batal Perpanjang Rashford, Harga dan Gaji Jadi Penghalang
Moh Zaki Ubaidillah Siap Hadapi Lee Cheuk Yiu di Babak 16 Besar Australia Open 2026