Mendapatkan ojek online belakangan ini ternyata susah banget. Bukan cuma buat nebeng, pesan makanan atau kirim barang pun sepi peminat. Fenomena ini sampai ramai dibahas di media sosial dengan istilah 'krisis ojol'. Ternyata, para driver punya alasan tersendiri.
Asti, yang bekerja di Jakarta Pusat, mengaku biasa mudah memesan ojek. Kecuali saat hujan. Tapi sekarang beda cerita. "Sekarang memesan layanan ojek online sulit. Kalaupun dapat, itu lama sekali menunggunya, bisa sampai satu jam," keluhnya pada Rabu malam lalu.
Tarifnya juga melonjak. Biasanya dia cuma bayar Rp 15 ribu, sekarang bisa tembus Rp 25 ribu. Dan itu pun belum tentu ada yang mau jemput.
Lita, seorang pegawai swasta di Jakarta Utara, merasakan hal serupa. "Harga layanan sudah naik signifikan pun tidak ada yang mau mengambil order. Padahal saya buru-buru untuk menuju ke kantor," ujarnya. Rasanya frustasi.
Mahasiswa seperti Setyo Ardiansyah di Jakarta Barat juga kena getahnya. Mau pesan makan siang, sore, atau malem, hasilnya sama: nihil. "Sudah sejak minggu lalu. Mau pesan makanan, tidak pernah ada yang mau ambil," katanya. Bahkan barang belanjaan online dengan klaim kirim instan baru sampai tiga hari kemudian, gara-gara toko kesulitan cari kurir.
Media sosial pun penuh dengan keluhan yang sama. Seorang warganet di Threads bertanya, "Jakarta sedang krisis ojol kah? Atau saya saja yang sial?" Unggahan itu langsung dapat banyak respons dari orang-orang yang nasibnya tak jauh beda.
Lalu, Apa Kata Para Driver?
Nurwansyah, mitra driver Shopee, punya penjelasan sederhana: orderan lagi meledak. "Memang sedang banyak pesanan menjelang Lebaran," katanya. Saat diwawancara, dia sedang mengantar pesanan yang ternyata baru bisa dikirim tiga hari setelah dipesan.
Edy, driver Gojek, mengiyakan. Tapi dia menambahkan alasan lain: kemacetan. "Selama Ramadan ini, order memang meningkat sekali. Pengemudi pun selektif, karena kondisi jalanan yang macet," ujarnya.
Dia jadi sangat perhitungan. Untuk order jarak dekat dengan tarif Rp 10-20 ribu, dia akan pertimbangkan betul rutenya. Kalau macet, lebih baik ditolak. "Saya bisa menghabiskan waktu, sehingga merugi. Pendapatan tidak seberapa," jelas Edy. Titik jemput yang jauh dari posisinya sekarang juga biasanya dia skip.
Cerita serupa datang dari Suryadi, driver Grab. Menurut catatannya, permintaan layanan naik drastis selama Ramadan. Di sisi lain, jalanan terutama jelang buka puasa makin parah macetnya. "Mungkin selama bulan puasa ini banyak orang yang ingin pulang pada waktu yang sama," dugaannya.
Kondisi itu bikin Suryadi memilih 'offline' atau 'off bid' sesaat sebelum buka puasa. Dia lebih memilih istirahat dan fokus ibadah ketimbang terjebak macet. "Saya aktifkan kembali pada jam tujuh malam lewat," katanya. Efeknya jelas, dalam dua jam dia cuma bisa melayani satu atau dua penumpang, bandingkan dengan hari biasa yang bisa empat orang. Untuk kirim paket, dia cuma mau terima orderan di siang hari, saat lalu lintas belum terlalu parah.
Menanggapi hal ini, perwakilan Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, mengakui ada tantangan. "Meskipun pada waktu dan area tertentu sebagian pengguna dapat mengalami waktu tunggu yang lebih lama dari biasanya," ujarnya.
Penyebabnya, permintaan layanan naik tinggi, sementara ketersediaan driver dipengaruhi faktor seperti cuaca ekstrem dan kepadatan lalu lintas yang tidak biasa. Tyas menyebut tim operasional Grab sedang berupaya menstabilkan ketersediaan mitra driver, termasuk dengan penyesuaian operasional di area permintaan tinggi. "Kami terus memantau perkembangan situasi ini secara berkala," janjinya.
Sementara itu, Gojek dan Shopee belum memberikan tanggapan resmi. Namun, lewat notifikasi di aplikasinya, Shopee secara halus mengakui masalah ini dengan menyebut adanya potensi keterlambatan pengiriman di beberapa wilayah akibat kendala operasional dan order yang membludak.
Artikel Terkait
Calon Haji Pacitan Hias Koper dengan Pita dan Stiker Demi Mudah Dikenali di Tanah Suci
Timika – Personel Satgas Damai Cartenz Amankan Anggota KKB Mewoluk yang Masuk DPO Penembakan Warga Sipil
BNPP Tekankan Pembangunan Perbatasan Bukan Hanya Soal Kedaulatan, Tapi Juga Kesejahteraan Ekonomi Rakyat
Waisak 2026 Jatuh pada 31 Mei, Berikut Jadwal Detik-detik, Tema, dan Libur Panjangnya