Ketersediaan Ojol Menipis di Jakarta, Driver Sebut Lonjakan Order dan Macet Ramadan sebagai Penyebab

- Kamis, 12 Maret 2026 | 09:30 WIB
Ketersediaan Ojol Menipis di Jakarta, Driver Sebut Lonjakan Order dan Macet Ramadan sebagai Penyebab

Mendapatkan ojek online belakangan ini ternyata susah banget. Bukan cuma buat nebeng, pesan makanan atau kirim barang pun sepi peminat. Fenomena ini sampai ramai dibahas di media sosial dengan istilah 'krisis ojol'. Ternyata, para driver punya alasan tersendiri.

Asti, yang bekerja di Jakarta Pusat, mengaku biasa mudah memesan ojek. Kecuali saat hujan. Tapi sekarang beda cerita. "Sekarang memesan layanan ojek online sulit. Kalaupun dapat, itu lama sekali menunggunya, bisa sampai satu jam," keluhnya pada Rabu malam lalu.

Tarifnya juga melonjak. Biasanya dia cuma bayar Rp 15 ribu, sekarang bisa tembus Rp 25 ribu. Dan itu pun belum tentu ada yang mau jemput.

Lita, seorang pegawai swasta di Jakarta Utara, merasakan hal serupa. "Harga layanan sudah naik signifikan pun tidak ada yang mau mengambil order. Padahal saya buru-buru untuk menuju ke kantor," ujarnya. Rasanya frustasi.

Mahasiswa seperti Setyo Ardiansyah di Jakarta Barat juga kena getahnya. Mau pesan makan siang, sore, atau malem, hasilnya sama: nihil. "Sudah sejak minggu lalu. Mau pesan makanan, tidak pernah ada yang mau ambil," katanya. Bahkan barang belanjaan online dengan klaim kirim instan baru sampai tiga hari kemudian, gara-gara toko kesulitan cari kurir.

Media sosial pun penuh dengan keluhan yang sama. Seorang warganet di Threads bertanya, "Jakarta sedang krisis ojol kah? Atau saya saja yang sial?" Unggahan itu langsung dapat banyak respons dari orang-orang yang nasibnya tak jauh beda.

Lalu, Apa Kata Para Driver?

Nurwansyah, mitra driver Shopee, punya penjelasan sederhana: orderan lagi meledak. "Memang sedang banyak pesanan menjelang Lebaran," katanya. Saat diwawancara, dia sedang mengantar pesanan yang ternyata baru bisa dikirim tiga hari setelah dipesan.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar