Rupanya, pikiran itu terus menggelayut. Malam sebelumnya, Selasa (7/4), Trump sudah menulis di Truth Social. Menurutnya, AS berpeluang meraup uang dalam jumlah besar dengan membantu mengurai kemacetan lalu lintas di selat strategis itu. Dia membayangkan AS akan menyediakan pasokan dan tetap berada di kawasan untuk memastikan kelancaran.
"Saya merasa yakin itu akan terwujud," tulisnya penuh keyakinan.
Namun begitu, ada satu poin penting yang dia tekankan. Trump menyatakan bahwa pembukaan kembali jalur perairan itu harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Jadi, ide pungutan dan usaha patungan ini bukan sekadar urusan bisnis semata, melainkan juga dikaitkan dengan resolusi konflik yang lebih besar.
Wacana ini tentu saja menuai beragam reaksi. Selat Hormuz adalah jalur vital bagi perdagangan minyak global. Memasukkan unsur pungutan apalagi lewat kerja sama dengan Iran yang selama ini bersitegang dengan AS adalah proposal yang sangat tidak biasa. Tapi, dalam politik global Trump, yang tidak biasa justru kerap menjadi menu utama.
Langkah selanjutnya? Kita tunggu saja. Trump terkenal dengan pernyataannya yang bisa berubah cepat. Tapi kali ini, dia terlihat cukup serius.
Artikel Terkait
Prabowo Serukan Optimisme di Peresmian Pabrik Kendaraan Listrik Magelang
KPK Periksa Dua Saksi Kasus Korupsi Restitusi Pajak Kalsel
Sampah Meluber di TPS 3R Pulogebang, Warga Khawatirkan Ancaman Penyakit
KPK Periksa Empat Saksi Kasus Pemerasan RPTKA di Malang