Pembukaan Selat Hormuz Jadi Ujian Diplomasi Indonesia untuk Bebaskan Kapal Tanker

- Rabu, 08 April 2026 | 13:05 WIB
Pembukaan Selat Hormuz Jadi Ujian Diplomasi Indonesia untuk Bebaskan Kapal Tanker

Setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda serangan, Iran mengumumkan akan membuka lalu lintas di Selat Hormuz. Kabarnya, pembukaan ini berlaku untuk dua minggu ke depan. Langkah ini langsung memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk di dalam negeri.

Di sisi lain, bagi Indonesia, momen ini dianggap sebagai peluang sekaligus ujian yang nyata. Mufti Anam, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP, tak ragu menyuarakan hal itu.

"Ini peluang, tapi juga ujian buat kita. Ujian apakah diplomasi yang selama ini kita banggakan benar-benar bekerja untuk kepentingan nasional," tegas Mufti kepada para wartawan, Rabu (8/4/2026).

Baginya, ini adalah saatnya membuktikan hasil. Selama ini, kata-kata tentang diplomasi kerap terdengar, namun momen seperti inilah yang menentukan. Indonesia harus bergerak cepat menyikapi jendela kesempatan yang hanya terbuka dua pekan ini.

"Kita sering bicara soal diplomasi. Pejabat kita bolak-balik ke luar negeri, bahkan Presiden melakukan kunjungan strategis. Itu bagus, memang penting. Tapi apa hasil konkretnya?" tanya Mufti lagi.

Pertanyaannya punya dasar yang spesifik. Dia menyoroti dua kapal tanker milik Pertamina yang hingga kini masih tertahan di sana. Mufti lalu membandingkan dengan langkah Malaysia yang dinilainya lebih gesit.

"Lihatlah Malaysia. Di tengah situasi yang memanas sekalipun, mereka berhasil membawa pulang kapal tankernya. Nah, sekarang Selat Hormuz dibuka. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai Indonesia dipandang tidak punya daya tawar di kancah internasional," ucapnya prihatin.

Jadi, dua minggu ke depan akan menjadi penanda. Apakah diplomasi Indonesia bisa berbicara lebih nyata daripada sekadar retorika, atau justru sebaliknya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar