Ketegangan yang memicu semua ini sudah mencapai titik didih. Pemicu utamanya adalah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, pada akhir Februari lalu. Serangan itu tak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menelan korban jiwa dari kalangan sipil.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Rentetan aksi saling serang ini memicu eskalasi konflik yang langsung menggoyang stabilitas kawasan.
Akibatnya, Selat Hormuz jalur utama ekspor minyak dan gas alam cair dunia nyaris tertutup secara de facto. Dampaknya langsung terasa: ekspor energi dari kawasan Teluk terhambat dan harga energi global melonjak tajam.
Situasi ini menjebak komunitas internasional dalam dilema yang pelik. Di satu sisi, ada tekanan untuk menjaga stabilitas keamanan dan mencegah perang terbuka. Di sisi lain, dunia juga harus memastikan pasokan energi global tetap lancar. Dua kepentingan yang saat ini sulit untuk dipertemukan.
Artikel Terkait
LavAni Tundukkan Garuda Jaya 3-0 di Final Four Proliga Surabaya
Dewa United Kalahkan PSIM 1-0 Berkat Penalti di Pekan Ke-26 ISL
KPK Buka Kemungkinan Panggil Anggota Pansus Haji DPR Terkait Kasus Kuota
Liga Arab Dukung Resolusi DK PBB untuk Amankan Selat Hormuz