Ia memaklumi jika ekspresi anak muda terkadang terkesan keras. Tujuannya, agar suara mereka didengar, bukan hanya oleh lembaga internasional, tetapi juga oleh publik luas. Bahkan, viralnya isu tersebut justru dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar selama berdasar pada kebenaran.
"Jangan dilawan di-counter dengan viral yang sebaliknya, yang sengaja direkayasa. Ini kan negara kita, kita ingin baik bersama-sama, kan begitu," tegasnya.
Menyoroti Respons yang Tidak Beradab
Mahfud kemudian menyayangkan kabar bahwa sang pengkritik justru mendapat penguntitan. Praktik semacam ini, meski kerap diwarnai klaim dan penyangkalan, ia sebut sebagai tindakan yang tidak beradab. Ia mengingatkan pola serupa pernah terjadi pada aktivis kritis lainnya, di mana kehidupan pribadi dan keluarga mereka diganggu.
"Sama juga dulu Ketua BEM UI itu kan, yang begitu keras, lalu ibunya yang didatangi di sana, dibongkar rahasia-rahasia pribadinya, gitu. Itu tidak beradab sebenarnya," ungkapnya dengan nada prihatin.
Panggilan untuk Evaluasi Mendalam
Di akhir pernyataannya, Mahfud menekankan bahwa pemerintah harus merespons isu ini dengan serius dan bijak. Tragedi memilukan seperti bunuh diri siswa SD dan fenomena anak-anak yang terpaksa bekerja di jalanan harus menjadi alarm pengingat yang keras.
"Harus menjadi bahan evaluasi ini apa yang terjadi, terutama menyangkut anak-anak kita semua. Saya ngeri anak-anak kita di Indonesia yang kita tidak bisa bayangkan ini besok bisa kerja apa, besok bisa jadi apa kalau kecil saja makan tidak bisa," kata Mahfud, menyuarakan kekhawatirannya akan masa depan generasi muda.
Artikel Terkait
Ritual Mattompang Arajang Warnai Peringatan Hari Jadi Bone ke-696
HUT Bone ke-696 Jadi Momentum Genjot Pembangunan Infrastruktur
Kiai Ilyas Desak Penyelesaian Kasus KM 50 dan Vina dalam Istighotsah Kubro Cirebon
Cooper Flagg Cetak 45 Poin, Bawa Mavericks Taklukkan Lakers di Laga Sengit