Udara di halaman rumah jabatan Bupati Bone pagi itu terasa berbeda. Khidmat. Di sana, prosesi adat Mattompang Arajang kembali digelar, menyemarakkan rangkaian Hari Jadi Bone yang ke-696. Senin, 6 April 2026, menjadi saksi.
Banyak tokoh penting hadir, tentu saja. Tapi bagi warga yang memadati lokasi, momen ini jauh lebih berarti dari sekadar seremoni. Ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan langsung benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Bone. Benda-benda yang bukan cuma tua, tapi sarat dengan sejarah dan filosofi hidup orang Bugis.
Secara harfiah, Mattompang Arajang adalah ritual pencucian atau penyucian pusaka kerajaan. Tradisi turun-temurun ini sudah berjalan ratusan tahun. Namun maknanya melampaui sekadar membersihkan logam dan kain. Ia adalah simbol penghormatan mendalam kepada leluhur. Di sisi lain, ritual ini juga jadi refleksi tentang nilai-nilai kepemimpinan, persatuan, dan tentu saja, kejayaan Bone di masa silam.
Di tengah suasana yang hening, sejumlah benda pusaka asli pun ditampilkan. Hadir menyaksikan, Bupati Bone Andi Asman Sulaiman dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, bersama tamu undangan lainnya.
Pusat dari semuanya adalah Arajang kumpulan pusaka utama kerajaan yang punya nilai historis luar biasa. Perhatian semua orang tertuju padanya. Beberapa benda yang selalu disucikan dalam ritual ini antara lain Teddung Pulaweng atau payung emas, Sembangeng Pulaweng (selempang emas), lalu ada juga La Tea Riduni yang berupa kalewang atau pedang. Tak ketinggalan, La Salaga (tombak) dan Alamin Tatarapeng, senjata tujuh yang legendaris.
Prosesi yang dipimpin pemangku adat ini berjalan lancar. Unsur pemerintah dan masyarakat duduk berdampingan, menyatu dalam kekhidmatan yang sama. Doa-doa pun mengalir, mengiringi setiap gerak ritual, sebagai bentuk penghormatan pada warisan yang tak ternilai.
Seorang tokoh adat Bone, Andi Yushan Tenritappu, menyoroti pentingnya pelestarian ini.
"Melalui tradisi ini, nilai-nilai budaya Bugis terus kita pelihara. Kita wariskan ke generasi muda," ujarnya.
Ia menegaskan, "Mattompang Arajang tidak hanya jadi agenda seremonial tahunan belaka. Lebih dari itu, ia adalah penguat identitas. Pemicu kebanggaan masyarakat Bone."
Dan begitulah, sebuah pagi di Bone bukan hanya tentang mengingat usia kabupaten yang bertambah. Tapi tentang merawat jiwa sebuah peradaban.
Artikel Terkait
Pria Cemburu Bunuh Kekasih Gelap dengan Obat Antinyeri di Hotel Makassar
Istri Aktivis Global Sumud Flotilla: Kecemasan Bukan pada Keselamatan Suami, Melainkan Misi Tembus Blokade Gaza
PSM Makassar Optimistis Kalahkan Madura United di Laga Pamungkas Super League
Perampok Bersajam Gasak Rp29 Juta dari Minimarket di Tangerang, Polisi Buru Dua Pelaku