Eagle High Plantations Kembali Ajukan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Defisit Rp3,71 Triliun

- Jumat, 22 Mei 2026 | 10:50 WIB
Eagle High Plantations Kembali Ajukan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Defisit Rp3,71 Triliun

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) kembali mengajukan rencana kuasi reorganisasi yang sempat tertunda pada tahun lalu, sebagai langkah strategis untuk menghapus saldo defisit yang membebani struktur permodalan perseroan.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 22 Mei 2026, manajemen menjelaskan bahwa aksi korporasi ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai posisi keuangan perusahaan. Untuk itu, perseroan menggunakan laporan posisi keuangan tahun 2025 sebagai acuan utama.

Hingga akhir tahun lalu, emiten sawit milik Rajawali Group itu mencatat saldo defisit sebesar Rp3,71 triliun. Angka tersebut merupakan akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya yang dipicu oleh tekanan keuangan akibat ekspansi usaha, beban utang, serta dampak pandemi Covid-19.

Namun, sejak 2022 hingga tahun lalu, BWPT menunjukkan pemulihan kinerja yang signifikan. Manajemen menyebut tren peningkatan laba secara berkelanjutan telah menjadi indikator positif bagi prospek usaha ke depan.

“Perseroan memandang perlu untuk melakukan penataan struktur ekuitas dan laporan posisi keuangan agar lebih mencerminkan kondisi keuangan perseroan saat ini secara wajar,” demikian pernyataan resmi manajemen.

Dengan diterapkannya kuasi reorganisasi, struktur ekuitas BWPT diharapkan menjadi lebih sehat tanpa lagi terbebani defisit masa lalu. Langkah ini juga dinilai mampu meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan, mulai dari pemegang saham, kreditur, hingga mitra usaha, terhadap prospek bisnis perseroan. Tak hanya itu, ada harapan bagi perusahaan untuk dapat membagikan dividen di masa mendatang.

Secara teknis, kuasi reorganisasi akan mengeliminasi seluruh saldo defisit dengan menggunakan agio saham atau tambahan modal disetor yang dimiliki perseroan.

Rencana serupa sebelumnya pernah diajukan pada Maret 2025 dan dijadwalkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Mei tahun yang sama. Namun, rencana tersebut gagal terlaksana berdasarkan surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor S-25/PM21/2025.

Kali ini, manajemen BWPT meyakini bahwa seluruh persyaratan untuk menjalankan kuasi reorganisasi telah terpenuhi. Salah satu indikatornya adalah pencapaian rata-rata laba tahun berjalan sebesar Rp270,4 miliar dalam tiga tahun terakhir. Capaian ini turut mendorong penurunan saldo defisit dari Rp4,33 triliun pada 2023 menjadi Rp3,71 triliun pada 2025.

Selain itu, BWPT telah menjalankan berbagai inisiatif strategis guna meningkatkan produktivitas operasional, termasuk perbaikan fasilitas produksi dan penguatan efisiensi di berbagai lini usaha.

Untuk merealisasikan rencana ini, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada Senin, 29 Juni 2026. Sebelumnya, rencana penyelenggaraan RUPSLB tersebut telah disampaikan kepada OJK pada 12 Mei 2026.

“Tempat penyelenggaraan RUPSLB akan diumumkan pada saat pemanggilan RUPSLB, yaitu pada 5 Juni 2026,” ujar perwakilan manajemen.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar