Sebuah operasi penyelamatan dramatis digelar militer AS di jantung wilayah Iran. Mereka berhasil membawa pulang seorang awak pesawat tempur yang ditembak jatuh. Operasi itu sendiri digambarkan sangat rumit dan penuh risiko.
Media AS melaporkan, puluhan pasukan khusus dikerahkan. Tak cuma itu, pesawat tempur, helikopter, bahkan agen CIA terlibat dalam misi berbahaya ini.
Lewat unggahan di media sosial pada Minggu (05/04), Presiden Donald Trump menyatakan klaim kesuksesan itu. "Kami telah menyelamatkan awak F15 yang mengalami luka serius dan sangat berhana, di dalam pegunungan Iran," tulisnya.
Semuanya berawal dua hari sebelumnya, Jumat (03/04). Sebuah jet F15 yang membawa dua personel seorang pilot dan seorang perwira sistem persenjataan jatuh di Iran selatan setelah ditembak. Ini jadi pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade pesawat tempur AS dijatuhkan pasukan musuh.
Kedua awak sempat melontarkan diri dari F15E Strike Eagle yang rusak. Pilot berhasil diselamatkan di hari yang sama. Sayangnya, rekan awaknya masih hilang, terjebak di wilayah bermusuh.
Pemerintah Iran malah punya klaim lain. Mereka menyatakan berhasil menghancurkan pesawat AS yang terlibat dalam upaya penyelamatan itu.
Lalu, dimulailah perlombaan waktu. AS dan Iran sama-sama berburu orang yang sama. Iran bahkan menawarkan hadiah besar, sekitar Rp1,1 miliar, untuk penangkapan hidup-hidup sang awak. Beredar video masih belum diverifikasi yang menunjukkan warga sipil bersenjata ikut mencari.
Di tengah pegunungan, sang awak hanya bermodalkan pistol untuk bertahan. Tapi dia bukan orang sembarangan. Pelatihan khusus untuk situasi seperti ini sudah diterimanya: cara menyalakan sinyal, mencari tempat tinggi, bersembunyi, dan membangun komunikasi.
Menurut laporan, dia memilih bersembunyi di sebuah celah gunung. Penggunaan penanda lokasi dibatasi, karena khawatir justru memancing deteksi dari pihak Iran. Yang dilakukannya cuma menunggu, berharap regu penyelamat datang sebelum musuh menemukannya.
Di sinilah peran CIA disebut-sebut vital. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengungkapkan, badan intelijen itulah yang berhasil melacak posisi persis sang awak hingga ke celah gunung, lalu meneruskan informasinya ke Pentagon.
Trump mengaku lokasi itu dipantau "24 jam sehari". Dia "diburu oleh musuh-musuh kami, yang dari jam ke jam semakin dekat," tambahnya. CIA juga main cerdik dengan menyebarkan kabar palsu di dalam Iran bahwa awak kedua sudah ditemukan sebuah taktik pengalihan.
"Mengirim puluhan pesawat, dipersenjatai dengan senjata paling mematikan di dunia, untuk menjemputnya," tulis Trump lagi di Truth Social.
Saat pasukan khusus bergerak mendekat, tembakan dan bom sengaja dilancarkan untuk menjauhkan pasukan Iran dari lokasi. Situasinya benar-benar genting.
Masalah lain muncul. Dua pesawat angkut yang rencananya membawa regu penyelamat dari sebuah pangkalan terpencil di Iran, gagal lepas landas. Agar tidak diambil alih musuh, kedua pesawat itu terpaksa dihancurkan. Pasukan akhirnya terbang menggunakan tiga pesawat pengganti.
Rekaman dan foto yang dikonfirmasi BBC Verify menunjukkan bangkai pesawat masih mengepulkan asap di pegunungan Iran tengah, sekitar 50 km tenggara Isfahan.
Versi Iran tentu berbeda. Militer mereka mengklaim dua pesawat angkut C130 dan dua helikopter Black Hawk AS berhasil dihancurkan. Mereka juga menyebut sebuah "misi pengelabuan" di bandara terbengkalai berhasil digagalkan. Media pemerintah Iran bahkan melaporkan sebuah drone AS ditembak jatuh saat mencari awak yang hilang. Klaim-klaim ini belum bisa dikonfirmasi BBC.
Tapi, sebelum tengah malam waktu AS, operasi itu akhirnya berhasil. Sang awak dievakuasi dan diterbangkan ke Kuwait untuk perawatan medis.
"Dia akan baik-baik saja," kata Trump soal kondisi perwira yang "mengalami luka serius" itu. Pemerintah AS masih menutup rapat identitas dan lokasi persis penyelamatannya.
Mantan pejabat militer AS, Laksamana Purnawirawan William Fallon, memberi analisisnya kepada BBC. Menurutnya, waktu operasi yang dilakukan pada malam hari adalah keuntungan besar. "Kegelapan lebih baik bagi orang-orang kami karena mereka terbiasa beroperasi pada malam hari."
Fallon berkomentar lugas tentang risiko terbang di wilayah musuh: "Anda harus siap menjadi orang yang terkena."
Tak lama sebelum pukul 00:00 EDT pada hari Minggu, media AS akhirnya memberitakan bahwa awak kedua yang hilang itu telah ditemukan. Trump menegaskan komitmennya dengan huruf besar: "KAMI TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN SEORANG PEJUANG PERANG AMERIKA!"
Di sisi lain, Iran bersikukuh menyebut operasi AS itu adalah kegagalan total.
Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengejek dalam sebuah video. "Presiden yang bodoh itu, terjebak dalam rawa perang dan agresi yang ia mulai sendiri... setiap agresi akan menghadapi kekalahan yang menentukan dan memalukan," ujarnya. Narasi "gagal" ini terus diulang-ulang oleh media pemerintah Iran.
Beberapa analis AS melihat insiden ini justru membuka kelemahan. Jatuhnya sebuah F15E di Iran, ditambah hancurnya beberapa pesawat penyelamat, dinilai menunjukkan keterbatasan kekuatan udara AS.
Namun, Jenderal Frank McKenzie, mantan komandan Komando Pusat AS, punya pandangan lain. Ia mengakui kepada CBS bahwa "kami memang kehilangan beberapa pesawat dalam misi itu." Tapi baginya, kerugian materi adalah harga yang wajar. "Membangun sebuah pesawat memerlukan waktu satu tahun, membangun tradisi militer yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang memerlukan waktu 200 tahun," tegasnya.
Laporan tambahan dari Ghoncheh Habibiazad, BBC Persian.
Artikel Terkait
Ritual Adat Patah Panah Hentikan Konflik Berkepanjangan di Jayawijaya, Tokoh dan Pejabat Sepakat Jaga Perdamaian
Penembakan di Dekat Gedung Putih, Trump di Dalam Gedung Saat Kejadian
Persib Bandung Kunci Hattrick Juara Liga Indonesia Usai Tekuk Borneo FC Lewat Head to Head
Wanita di Bogor Kehilangan Mobil Usai Jadi Korban Perampokan Teman Kencan