Mendagri: Inflasi Bulanan Jadi Indikator Kunci Pemulihan Daerah Bencana

- Senin, 06 April 2026 | 16:00 WIB
Mendagri: Inflasi Bulanan Jadi Indikator Kunci Pemulihan Daerah Bencana

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melihat ada secercah harapan. Tiga provinsi yang sempat porak-poranda akibat bencana, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Indikatornya? Inflasi bulanan yang mulai membaik. Menurut Tito, perbaikan sarana dan infrastruktur sosial-ekonomi ternyata punya dampak langsung. Pasokan barang pokok mulai lancar, dan harganya pun lebih terkendali.

Dalam rapat di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (6/4), Tito justru menggarisbawahi satu hal. Untuk urusan mengendalikan harga, indikator inflasi bulanan (month to month) jauh lebih relevan ketimbang angka tahunan (year on year). Yang terakhir ini memang bagus untuk laporan makro, tapi kurang greget untuk tindakan nyata di lapangan.

"Data inflasi year on year oke untuk jadi pegangan nasional dan dunia internasional," ujarnya.

"Tapi kalau untuk mengendalikan inflasi, lebih tepat kita menggunakan yang month to month."

Secara nasional, trennya memang positif. Inflasi tahunan turun dari 4,76% ke 3,48%. Sementara inflasi bulanan juga melandai, dari 0,68% menjadi 0,41%. Normalisasi tarif listrik dan mobilitas saat libur panjang disebut-sebut berpengaruh di sini, terutama pada harga makanan, minuman, dan transportasi.

Nah, yang menarik justru di daerah terdampak. Sumatera Barat dan Aceh mencatat inflasi bulanan sangat rendah, hanya 0,04%. Sumatera Utara malah mengalami deflasi sebesar 0,13%. Angka-angka ini, meski kecil, punya makna besar.

Ambil contoh Aceh. Wilayah ini sempat mengalami lonjakan harga yang cukup menyiksa karena distribusi barang terhambat parah. Jalan putus, pasokan mandek. Tapi rupanya, kondisi itu perlahan berbalik. Begitu distribusi mulai pulih, inflasi bulanannya langsung menunjukkan perbaikan.

"Artinya apa yang dikerjakan selama ini untuk menormalisasi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, mengendalikan harga barang dan jasa, itu sudah cukup baik," pungkas Tito. "Karena banyak suplai sudah masuk."

Momentum ini tentu harus dijaga. Tito menekankan, ketersediaan pasokan dan distribusi yang mulai stabil di wilayah bencana adalah sinyal bagus. Tapi bukan berarti bisa lengah. Koordinasi ketat antara pusat dan daerah, plus pemantauan komponen inflasi, tetap kunci agar kemajuan ini tidak mundur lagi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar