Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melihat ada secercah harapan. Tiga provinsi yang sempat porak-poranda akibat bencana, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Indikatornya? Inflasi bulanan yang mulai membaik. Menurut Tito, perbaikan sarana dan infrastruktur sosial-ekonomi ternyata punya dampak langsung. Pasokan barang pokok mulai lancar, dan harganya pun lebih terkendali.
Dalam rapat di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (6/4), Tito justru menggarisbawahi satu hal. Untuk urusan mengendalikan harga, indikator inflasi bulanan (month to month) jauh lebih relevan ketimbang angka tahunan (year on year). Yang terakhir ini memang bagus untuk laporan makro, tapi kurang greget untuk tindakan nyata di lapangan.
"Data inflasi year on year oke untuk jadi pegangan nasional dan dunia internasional," ujarnya.
"Tapi kalau untuk mengendalikan inflasi, lebih tepat kita menggunakan yang month to month."
Secara nasional, trennya memang positif. Inflasi tahunan turun dari 4,76% ke 3,48%. Sementara inflasi bulanan juga melandai, dari 0,68% menjadi 0,41%. Normalisasi tarif listrik dan mobilitas saat libur panjang disebut-sebut berpengaruh di sini, terutama pada harga makanan, minuman, dan transportasi.
Artikel Terkait
Muzani Peringatkan Dampak Perang Timur Tengah Sudah Terasa di Asia Tenggara
Kejagung Amankan Empat Jaksa Terkait Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Ekspor Jatim Tergerus, Defisit Perdagangan Capai US$1,17 Miliar Awal 2026
Direktur PT BSK Buka Suara soal Penyerahan Uang Nonteknis Rp 290 Juta ke Sultan Kemnaker