Masalah lain muncul. Dua pesawat angkut yang rencananya membawa regu penyelamat dari sebuah pangkalan terpencil di Iran, gagal lepas landas. Agar tidak diambil alih musuh, kedua pesawat itu terpaksa dihancurkan. Pasukan akhirnya terbang menggunakan tiga pesawat pengganti.
Rekaman dan foto yang dikonfirmasi BBC Verify menunjukkan bangkai pesawat masih mengepulkan asap di pegunungan Iran tengah, sekitar 50 km tenggara Isfahan.
Versi Iran tentu berbeda. Militer mereka mengklaim dua pesawat angkut C130 dan dua helikopter Black Hawk AS berhasil dihancurkan. Mereka juga menyebut sebuah "misi pengelabuan" di bandara terbengkalai berhasil digagalkan. Media pemerintah Iran bahkan melaporkan sebuah drone AS ditembak jatuh saat mencari awak yang hilang. Klaim-klaim ini belum bisa dikonfirmasi BBC.
Tapi, sebelum tengah malam waktu AS, operasi itu akhirnya berhasil. Sang awak dievakuasi dan diterbangkan ke Kuwait untuk perawatan medis.
"Dia akan baik-baik saja," kata Trump soal kondisi perwira yang "mengalami luka serius" itu. Pemerintah AS masih menutup rapat identitas dan lokasi persis penyelamatannya.
Mantan pejabat militer AS, Laksamana Purnawirawan William Fallon, memberi analisisnya kepada BBC. Menurutnya, waktu operasi yang dilakukan pada malam hari adalah keuntungan besar. "Kegelapan lebih baik bagi orang-orang kami karena mereka terbiasa beroperasi pada malam hari."
Fallon berkomentar lugas tentang risiko terbang di wilayah musuh: "Anda harus siap menjadi orang yang terkena."
Tak lama sebelum pukul 00:00 EDT pada hari Minggu, media AS akhirnya memberitakan bahwa awak kedua yang hilang itu telah ditemukan. Trump menegaskan komitmennya dengan huruf besar: "KAMI TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN SEORANG PEJUANG PERANG AMERIKA!"
Di sisi lain, Iran bersikukuh menyebut operasi AS itu adalah kegagalan total.
Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengejek dalam sebuah video. "Presiden yang bodoh itu, terjebak dalam rawa perang dan agresi yang ia mulai sendiri... setiap agresi akan menghadapi kekalahan yang menentukan dan memalukan," ujarnya. Narasi "gagal" ini terus diulang-ulang oleh media pemerintah Iran.
Beberapa analis AS melihat insiden ini justru membuka kelemahan. Jatuhnya sebuah F15E di Iran, ditambah hancurnya beberapa pesawat penyelamat, dinilai menunjukkan keterbatasan kekuatan udara AS.
Namun, Jenderal Frank McKenzie, mantan komandan Komando Pusat AS, punya pandangan lain. Ia mengakui kepada CBS bahwa "kami memang kehilangan beberapa pesawat dalam misi itu." Tapi baginya, kerugian materi adalah harga yang wajar. "Membangun sebuah pesawat memerlukan waktu satu tahun, membangun tradisi militer yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang memerlukan waktu 200 tahun," tegasnya.
Laporan tambahan dari Ghoncheh Habibiazad, BBC Persian.
Artikel Terkait
Petugas PPSU di Kalisari Diberi SP1 Gara-gara Pakai Foto AI untuk Laporan Parkir
Pemerintah Buka Opsi Impor Minyak Mentah dari Rusia demi Jamin Pasokan BBM
Jerman Wajibkan Izin Militer bagi Pria yang Ingin Tinggal di Luar Negeri Lebih dari Tiga Bulan
Polisi Ungkap Motif Iseng dan Pengaruh Narkoba di Balik Pelecehan Seksual Sopir Taksi Online