Gubernur DKI Pastikan Stok Aman, Sementara Industri Plastik Nasional Terancam PHK

- Senin, 06 April 2026 | 16:15 WIB
Gubernur DKI Pastikan Stok Aman, Sementara Industri Plastik Nasional Terancam PHK

Di tengah gejolak harga global, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berusaha menenangkan situasi. Ia memastikan harga sejumlah kebutuhan pokok di ibu kota masih dalam batas aman. Kenaikan harga plastik yang terjadi di beberapa daerah, disebutnya sebagai imbas dari situasi di Timur Tengah, tak lantas membuat Jakarta gonjang-ganjing.

“Di Jakarta sampai dengan hari ini kami memantau harian, inflasinya masih terjaga dengan baik,” tegas Pramono.

Ia menambahkan, warga tak perlu melakukan panic buying. Menurutnya, stok barang-barang utama masih lebih dari cukup. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Groundbreaking Pasar Gardu Asem, Kemayoran, pada Senin (6/4/2026).

Namun begitu, gambaran di daerah lain ternyata berbeda. Sebagai contoh, Pasar Pucang Anom di Surabaya mencatatkan lonjakan penjualan plastik yang fantastis: hingga 40%. Kenaikan itu terjadi sejak lebaran Idulfitri di akhir Maret lalu.

Lantas, apa pemicunya? Semuanya berawal dari ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak Brent sempat menembus lebih dari US$100 per barel. Gangguan logistik internasional khususnya yang melalui Selat Hormuz langsung berimbas ke Asia. Ditambah lagi, harga bahan baku yang melambung tinggi ikut memperkeruh keadaan.

Ambil contoh polypropylene, komoditas kunci untuk plastik. Harganya melonjak drastis, mencapai 250% sejak awal tahun. Lonjakan semacam ini bukan main-main dampaknya. Industri yang bergantung pada bahan baku plastik tertekan, dan ancaman PHK pun mengintai.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier, membenarkan tekanan itu sangat nyata. Gangguan pasokan, jika berlanjut, akan semakin membebani industri hilir.

“Ada beberapa yang mungkin mereka sudah mengarah ke sana [PHK], tapi, karena mereka masih punya modal, kita coba survive dulu ya,” ujar Henry saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).

“Namun, arah ke sana [PHK] itu sudah ada. Beberapa industri kita yang menggunakan bahan baku plastik sudah mengarah ke situ,” lanjutnya.

Persoalan mendasarnya adalah ketergantungan impor yang masih besar. Kapasitas industri petrokimia dalam negeri, menurut Henry, hanya bisa memenuhi sekitar separuh hingga 60% kebutuhan nasional. Sisanya, sekitar 40-50%, masih harus didatangkan dari luar utamanya dari Timur Tengah dan China.

Dampaknya sudah merembet ke tingkat konsumen biasa. Aphindo mencatat, kenaikan harga bahan baku plastik mulai terasa di pasar. Henry mengingatkan, situasi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Apalagi, daya beli masyarakat saat ini juga sedang tidak kuat-kuatnya.

Jadi, di satu sisi pemerintah daerah menyatakan situasi terkendali. Di sisi lain, data dari lapangan dan pelaku industri justru menunjukkan gelombang kesulitan yang nyata. Kenaikan harga plastik ini mungkin hanya gejala awal dari sebuah masalah rantai pasok yang jauh lebih rumit.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar