Senin kemarin, rupiah ditutup melemah lagi. Mata uang kita anjlok 55 poin, atau sekitar 0,32 persen, ke level Rp17.035 per dolar AS. Pergerakannya memang masih didikte oleh sentimen dari luar negeri.
Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, ada satu isu eksternal yang paling menyita perhatian investor. Yaitu ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Iran soal Selat Hormuz.
“Presiden Trump pada hari Minggu memperingatkan bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa, menunjukkan bahwa tenggat waktu pukul 8 malam Waktu Bagian Timur telah ditetapkan untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.
Namun begitu, Iran tampaknya tak mau begitu saja menyerah. Juru bicara Presiden Iran, Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, menyebut transit di selat itu baru bisa dilanjutkan jika Iran mendapat kompensasi atas kerusakan terkait perang. Sikap saling ancam ini bikin khawatir. Situasi di Teluk Persia bisa makin panas, sementara pengiriman barang via laut sudah terhambat berminggu-minggu.
Efeknya langsung terasa. Harga minyak mentah melonjak lagi, yang otomatis memicu kekhawatiran inflasi baru. Bayangkan saja, ongkos energi yang lebih tinggi pasti akan membebani sektor transportasi, manufaktur, dan kantong konsumen di seluruh dunia kalau selat itu tetap macet.
Di sisi lain, data dari Amerika justru cukup menggembirakan. Ekonomi AS mencatat penambahan 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, jauh melampaui perkiraan pasar yang cuma 60.000. Tingkat penganggurannya pun turun tipis ke 4,3 persen. Data kuat seperti ini biasanya mendorong dolar, yang artinya jadi tekanan tambahan buat rupiah.
Sementara dari dalam negeri, kabarnya juga kurang baik. Menteri Keuangan melaporkan defisit APBN hingga Maret 2026 sudah membengkak ke angka Rp240,1 triliun. Angka ini setara dengan 0,93 persen dari PDB, jauh lebih besar ketimbang periode sama tahun lalu yang cuma Rp99,8 triliun. Padahal, batas atas defisit yang ditargetkan pemerintah untuk tahun 2026 adalah 2,68 persen.
Penyebabnya cukup jelas. Belanja negara melesat tinggi, tumbuh 31,4 persen year-on-year jadi Rp815 triliun. Di sisi penerimaan, pertumbuhannya tak secepat itu. Penerimaan negara hanya Rp574,9 triliun, dengan kontribusi terbesar dari pajak sebesar Rp462,7 triliun. Akibatnya, keseimbangan primer yang mengukur pendapatan dikurangi belanja di luar bunga utang masih defisit Rp95,8 triliun. Defisit primer berarti untuk menutupi pengeluaran rutin saja, pemerintah masih perlu berutang.
Dengan segudang sentimen campur aduk ini, proyeksi untuk rupiah hari ini masih suram. Mata uang kita diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah lagi di kisaran Rp17.030 hingga Rp17.080 per dolar AS.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Terombang-ambing oleh Hasil Pertemuan OPEC+ dan Data Konsumsi Bensin AS
Belanja Modal Telkom Kuartal I-2026 Turun Jadi Rp4,9 Triliun, Fokus pada Infrastruktur Inti
Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri, dan Pensiunan Cair Mulai 2 Juni 2026
Kinerja Operasional IPCC Tumbuh 16 Persen hingga Awal Kuartal II 2026, Didorong Kenaikan Arus Kendaraan Niaga