NOALE Pemandangan di pit garasi Aprilia Racing pasti cerah-cerah saja. Bagaimana tidak? Mereka sedang memuncaki klasemen MotoGP 2026. Tapi, jangan salah. Bos tim Massimo Rivola justru terlihat paling waspada di tengah euforia ini. Dia bilang, lengah sedikit, semuanya bisa berantakan.
“Kami tidak boleh lengah: siapa yang berhenti, akan kalah,” tegas Rivola, seperti dikutip dari Motosan, Sabtu lalu.
Peringatannya jelas. Jangan sampai kesuksesan awal musim ini membuat semua orang kehilangan fokus. Perjalanan masih panjang, dan tantangan pasti akan datang silih berganti. Rivola menuntut seluruh kru dan pembalap untuk tetap mengerahkan tenaga, menjaga ritme kerja yang solid dari satu balapan ke balapan berikutnya.
Dominasi Aprilia saat ini memang sulit dibantah. Marco Bezzecchi, sang pembalap andalan, memimpin klasemen dengan 81 poin berkat tiga kemenangan beruntun yang spektakuler. Di belakangnya, rekan setim Jorge Martin mengintai ketat dengan 77 poin. Posisi satu-dua ini tentu memberi keunggulan psikologis yang besar.
Namun begitu, Rivola menolak terbuai. Dia justru lebih gencar menekankan pentingnya kerja sama tim ketimbang sorotan pada prestasi individu. Bagi dia, sinergi adalah kunci segalanya.
“Saya lebih menyukai kerja tim. Saya sangat menekankan hal ini,” ujarnya.
“Saya selalu mengatakan bahwa setiap orang harus mampu mengorbankan sedikit egonya untuk melayani orang lain. Ketika itu terjadi, kepuasan memiliki seseorang yang bekerja bersama Anda untuk mengembangkan sebuah ide bahkan lebih besar daripada ketika Anda memilikinya sendiri,” tambah Rivola, menjelaskan filosofi di balik kesuksesan mereka.
Nah, ujian sesungguhnya akan segera tiba. Sirkuit Jerez, Spanyol, akan menjadi ajang seri keempat pada 24-26 April mendatang. Trek yang menantang itu akan menguji konsistensi dan mental seluruh tim Aprilia. Bisa bertahan atau tidak, itu pertanyaan besarnya.
Pesan Rivola sudah jelas. Pimpinan klasemen itu bagus, tapi itu hanya angka sementara. Balapan selanjutnya adalah medan perang baru. Dan dalam MotoGP, pemenangnya adalah yang bertahan sampai garis akhir, bukan yang memimpin di lap pertama.
Artikel Terkait
Simon Santoso, Pebulu Tangkis Terakhir yang Juarai Indonesia Open Tunggal Putra 14 Tahun Lalu
PSIS Semarang Terancam Gagal Rekrut Carlos Fortes Akibat Sanksi FIFA di Tengah Rencana Kebangkitan Bersama Widodo Cahyono Putro
PSM Makassar Tutup Musim Pahit di Papan Bawah, Ahmad Amiruddin Isyaratkan Perombakan Besar dan Peluang Kembalinya Darije Kalezic
PSM Makassar Kehilangan Yuran Fernandes, Pelatih Baru Hadapi Tugas Berat Isi Kekosongan Kapten di Tengah Sanksi FIFA