Charles Honoris Desak Penutupan Permanen SPPG Pemicu Keracunan MBG di Jakarta

- Minggu, 05 April 2026 | 09:50 WIB
Charles Honoris Desak Penutupan Permanen SPPG Pemicu Keracunan MBG di Jakarta

Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, masih menyisakan keprihatinan. Dari laporan terakhir, puluhan siswa harus dilarikan ke rumah sakit. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris memberikan apresiasi sekaligus kritik tajam.

Ia mengapresiasi respons cepat Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menangani insiden tersebut. Namun begitu, Charles merasa langkah yang diambil masih belum memadai.

"Sanksi seperti pembekuan sementara bagi SPPG Pondok Kelapa 2 itu jelas tidak cukup," tegasnya kepada wartawan, Minggu (5/4/2026).

Baginya, dampak yang ditimbulkan terlalu serius untuk hanya dijawab dengan sanksi ringan. Ia mendesak agar sanksi yang diberikan jauh lebih berat.

"Setiap SPPG yang terbukti lalai hingga menyebabkan keracunan harus ditutup permanen. Izin operasionalnya pun wajib dicabut," ujar Charles.

Menurut politikus ini, kebijakan semacam itu tidak boleh bersifat kasuistik. Ia ingin ini jadi standar nasional yang tegas, sebuah bentuk penegakan hukum yang konsisten agar tidak ada lagi pihak yang main-main.

"Ini soal pertanggungjawaban moral. Sekaligus efek jera, biar semua penyelenggara patuh pada standar keamanan pangan," tambahnya.

Charles juga mendorong BGN untuk tak berhenti di situ. Ia meminta audit menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok MBG, mulai dari bahan baku, proses masak, hingga distribusinya. SOP di setiap titik layanan harus dipastikan berjalan. Tujuannya satu: mencegah terulangnya kejadian serupa.

"Sanksi penutupan permanen harus jadi peringatan keras. Jangan sampai keselamatan rakyat, apalagi anak-anak, dianggap remeh," tegasnya lagi.

Ke depan, Komisi IX akan mendorong pengawasan yang lebih ketat. Rencananya, mereka ingin melibatkan BPOM secara lebih intensif di setiap unit layanan gizi. Skema pengawasan preventif, katanya, harus benar-benar diperkuat.

"Program nasional yang strategis ini harus memberi manfaat, bukan malah membawa risiko kesehatan untuk generasi penerus," pungkas Charles.

Di lapangan, situasi masih mencemaskan. Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah diduga keracunan setelah menyantap spageti dari program MBG. Mereka kini masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit rujukan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sempat meninjau langsung penanganan korban di RSKD Duren Sawit. Ia ingin memastikan segala proses berjalan baik.

"Kita semua tahu, ada dampak dari makanan yang disiapkan SPPG di Pondok Kelapa Dua ini," kata Pramono di lokasi, Sabtu (4/4/2026).

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar