Suara Keadilan Bergema dari Cirebon
Jumat sore di Cirebon terasa berbeda. Ribuan orang memadati acara Istighotsah Kubro dan Halal Bihalal Doa untuk Indonesia. Suasana khidmat, tapi ada gelombang kegelisahan yang nyaris teraba. Bukan sekadar ritual, acara itu menjelma menjadi panggung tempat suara rakyat soal keadilan dikumandangkan dengan lantang.
Mereka menyuarakan kegundahan. Banyak kasus, kata mereka, masih menggantung tanpa titik terang. Rasa haus akan kepastian hukum terasa begitu kuat di antara lantunan doa.
Di tengah kerumunan itu, KH. Muhammad Ilyas Khaelani, Pimpinan Majelis Al Barkah Surya Cirebon, mengambil suara. Dengan tegas ia menyatakan negara tak boleh abai.
“Jangan biarkan kasus-kasus seperti KM 50 dan kasus Vina menggantung tanpa kepastian. Ini menyangkut rasa keadilan masyarakat,” tegas Kiai Ilyas.
Baginya, istighotsah ini punya dua sisi. Satu sisi adalah ibadah, sisi lainnya adalah tekanan moral. Sebuah desakan agar hukum tidak hanya ada di atas kertas, tapi benar-benar hidup dan bekerja secara adil. Transparansi menjadi kunci.
“Kalau memang itu perlu dijelaskan, maka jelaskan. Kalau itu perlu ditegakkan, maka tegakkan. Negara ini punya hukum, dan hukum tidak boleh kalah,” ujarnya.
Kiai Ilyas punya kekhawatiran mendalam. Lambatnya penyelesaian perkara, menurut pengamatannya, bukan cuma soal waktu. Itu perlahan-lahan mengikis kepercayaan publik. Terutama kepercayaan pada institusi penegak hukum yang seharusnya jadi tumpuan.
“Ketika kasus tidak kunjung selesai, publik bertanya-tanya. Di situlah kepercayaan bisa runtuh,” katanya.
Ia kemudian menyinggung peran pemerintah. Butuh keberanian, katanya, untuk membersihkan beban-beban sosial yang masih tertunda penyelesaiannya. Sorotan khusus ia arahkan pada kepemimpinan baru.
“Kami berharap Presiden Prabowo bisa menyelesaikan ini dengan baik. Selesaikan semua kasus yang belum terselesaikan. Ini harapan masyarakat,” pintanya.
Tak lupa, pesan khusus ia sampaikan untuk aparat penegak hukum, Polri khususnya. Integritas, kata dia, adalah harga mati. Jangan sampai kepentingan sekejap mengaburkan tugas mulia menegakkan kebenaran.
“Kami berdoa agar aparat dijauhkan dari godaan yang merusak integritas. Hukum harus ditegakkan secara jujur, terbuka, dan profesional,” imbuhnya.
Di akhir, nada Kiai Ilyas terdengar lebih lirih namun penuh makna. Istighotsah dan doa yang dipanjatkan ribuan orang itu, ia akui, adalah bentuk harapan terakhir. Sebuah munajat kolektif dari masyarakat yang masih percaya bahwa keadilan haruslah nyata.
“Kami hanya bisa bermunajat. Semoga kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan,” pungkasnya.
Doa-doa itu melayang tinggi di langit Cirebon. Menunggu jawaban.
Artikel Terkait
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim
Pelaku Curanmor Bersenpi Tewas Ditembak, Polisi Ringkus Satu Komplotan di Tulang Bawang
Kelebihan Biaya Perjalanan Luar Negeri Presiden Prabowo Ditanggung Pribadi, Klaim Sekretaris Kabinet
Polri Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Berbasis Data di Jalur Puncak, Volume Kendaraan Capai 40.000 per Hari