Pertama, soal penandatanganan permintaan maaf. Waktu itu, ia dikibuli. Diminta tanda tangan sebuah dokumen yang katanya bersifat tertutup, tidak untuk dipublikasikan. Tapi apa yang terjadi? Belum lagi ia sampai di rumah, tanda tangannya sudah menyebar luas di media sosial. Ia merasa dibohongi habis-habisan.
Pengalaman itulah yang kini ia jadikan lensa untuk melihat "sowan" Eggi dan Damai. Gus Nur menduga, Eggi pasti juga menginginkan pertemuannya dengan Jokowi itu tidak dipublikasikan. Kenyataannya? Belum lagi Eggi tiba di rumah, berita soal pertemuan itu sudah ramai di mana-mana. Kesia-siaan Eggi dalam menjawab pertanyaan wartawan, yang terlihat plintat-plintut, dianggap Gus Nur sebagai bukti ketidaksiapannya.
Kedua, ada tawaran yang menggiurkan. Seorang sahabatnya yang merupakan pendukung Jokowi, mengajak Gus Nur untuk ikut sowan. Tujuannya, katanya, untuk melihat langsung ijazah sang presiden. Tak cuma itu, dijanjikan pula ganti rugi miliaran rupiah atas segala "kezaliman" yang ia alami dari rezim.
Tawaran itu ditolaknya mentah-mentah.
Gus Nur sudah mengharamkan diri sendiri untuk bertemu dengan Jokowi. Ia ogah berkompromi. Bahkan, sekalipun semua orang di dunia ini pada akhirnya menyambangi rumah itu, ia memastikan dirinya tidak akan ikut. Apalagi hanya untuk sekadar melihat ijazah "Jokowi berkacamata" yang, dalam pandangannya, bukanlah Presiden ketujuh Republik Indonesia yang sah.
Penulis: Erizal
Artikel Terkait
Bhutan: Ketika Sebuah Negara Memilih Jalan Kebahagiaan, Bukan Kecepatan
Di Balik Pangsit dan Ikan Utuh: Makna Tersembunyi Makanan Imlek yang Sarat Doa
Status Tersangka Eggi dan Damai Dicabut Usai Restorative Justice
Kontroversi Dapur MBG: Rekor Bersih Nganu Dipertanyakan atau Hanya Strategi Bisnis?