Menjadi orang baik di masa sekarang? Rasanya semakin sulit saja. Kejujuran sering dicap aneh. Orang yang berusaha menjaga diri malah dibilang ketinggalan zaman. Bahkan, memilih diam untuk menghindari dosa bisa bikin kita dicurigai. Dunia ini berputar begitu cepat, tapi entah mengapa, banyak hati justru seperti kehilangan kompas.
Memperbaiki diri sekarang ini intinya bukan soal tampil paling suci. Ini lebih tentang perjuangan untuk tidak ikut terbawa arus. Saat semua orang berlomba-lomba meledakkan emosi, kita berusaha menahan diri. Itu artinya tetap memilih jalan lurus, meski sering harus ditempuh sendirian.
Lelah? Pasti. Ada kalanya rasanya ingin menyerah saja. Iman naik-turun, doa terasa hampa, seolah hanya berbalik ke langit-langit kamar. Tapi justru di titik terendah itulah perjuangan kita diuji. Allah, menurut keyakinan, tidak menghitung berapa banyak orang yang membela kita. Dia melihat ketulusan hati saat kita memilih untuk bertahan, sendirian sekalipun.
Mereka yang serius membenahi diri di akhir zaman jarang dapat pujian. Mereka belajar untuk diam saat difitnah. Berlatih sabar ketika disalahpahami. Dan berusaha ikhlas meski jerih payahnya tak seorang pun lihat. Mereka paham, tidak semua kebaikan harus punya saksi mata. Cukuplah Allah yang tahu.
Di sisi lain, proses perbaikan diri juga berarti perang melawan ego sendiri. Itu soal berani mengakui salah tanpa berkelit. Memaafkan, meski luka di hati belum sepenuhnya kering. Serta tetap berbuat baik, walau balasan yang diterima tak selalu sama.
Artikel Terkait
Mahkamah Konstitusi Kebanjiran 701 Perkara, Tapi Putus Lebih Cepat
Densus 88 Ungkap Kaitan Perundungan dan Radikalisme Neo-Nazi pada Anak
Pengadilan Agama Kabulkan Gugatan Cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil
Masjid Runtuh, Donatur Kabur, Warga Gari Jumatan di Musala