Malam ini di Nyon, nasib klub-klub Eropa ditentukan. Pengundian babak 16 besar Liga Champions akhirnya selesai digelar, dan hasilnya? Bisa dibilang, peta perjalanan menuju final terbelah dengan sangat jelas. Ada yang dapat jalan tol, ada pula yang harus masuk labirin penuh jebakan.
Barcelona, Atletico Madrid, dan Arsenal sepertinya boleh sedikit bernapas lega. Jalur yang mereka dapatkan terlihat lebih bersahabat. Tapi jangan salah, ini tetap Liga Champions. Tidak ada yang namanya pertandingan gampang di sini.
Di sisi lain, suasana pasti berbeda di ruang direktur PSG, Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen. Mereka seolah dikumpulkan dalam satu ‘group of death’ yang baru. Sejak babak 16 besar, mereka sudah harus saling sikut dan saling bunuh. Bayangkan saja, untuk sekadar mencapai semifinal, mereka harus mengalahkan setidaknya dua raksasa Eropa lainnya. Sungguh neraka.
Ambil contoh, pemenang duel panas PSG vs Chelsea nanti, tidak akan mendapat jeda. Mereka langsung berhadapan dengan pemenang laga Galatasaray vs Liverpool. Belum selesai di sana.
Lalu, siapa pun yang selamat dari pertarungan sengit antara Real Madrid dan Manchester City, harus siap berjumpa Atalanta atau sang juara bertahan, Bayern Munchen. Padat, berat, dan menegangkan.
Nah, bandingkan dengan situasi Arsenal. Setelah berusaha menaklukkan Bayer Leverkusen, tantangan berikutnya adalah menghadapi Bodø/Glimt atau Sporting CP. Bukan berarti lawan-lawan itu remeh, tapi secara kertas, beban Arsenal jelas lebih ringan. Mereka pun langsung dijagokan melenggang ke semifinal.
Begitu pula Barcelona. Jika berhasil mengatasi Newcastle United dan seharusnya mereka bisa lawan berikutnya adalah Atletico Madrid atau Tottenham Hotspur. Duel sesama rival yang pasti sengit, tapi setidaknya tidak harus berurusan dengan kumpulan raksasa di sisi lain bagan.
Intinya, meski semua laga di fase gugur ini akan berlangsung ketat, ketiga tim tadi punya jalan yang relatif lebih mulus. Mereka terhindar dari kumpulan monster yang dihuni PSG, Madrid, City, Liverpool, dan Bayern.
Berikut bagan lengkapnya, yang menggambarkan betapa timpangnya dua sisi jalan menuju final itu.
Perempat Final
PSG atau Chelsea vs Galatasaray atau Liverpool
Real Madrid atau Manchester City vs Atalanta atau Bayern Munchen
Newcastle atau Barcelona vs Atletico Madrid atau Tottenham
Bodø/Glimt atau Sporting CP vs Bayer Leverkusen atau Arsenal
Semifinal
Pemenang dari kubu neraka (PSG/Chelsea/Galatasaray/Liverpool) vs Pemenang dari kubu neraka lainnya (Real Madrid/Manchester City/Atalanta/Bayern Munchen).
Lalu, pemenang dari kubu yang lebih ringan (Newcastle/Barcelona/Atletico Madrid/Tottenham) vs pemenang dari kubu terakhir (Bodø/Glimt/Sporting CP/Bayer Leverkusen/Arsenal).
Artikel Terkait
Persija Dikaitkan dengan Eks Gelandang Chelsea dan AC Milan, Tiemoue Bakayoko
Debut 17 Tahun, Pemain Termuda Timnas Indonesia Menangis Haru Usai Lagu Tanah Airku Berkumandang
Veda Ega Pratama Bangkit dari Posisi Buncit ke Papan Atas pada Hari Pertama Moto3 Hungaria 2026
Mathew Baker Debut di Timnas Senior, Kini Pemain Termuda Sepanjang Sejarah Indonesia