Pemprov DKI dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Bisa Prediksi Polusi hingga Tiga Hari ke Depan

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:25 WIB
Pemprov DKI dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Bisa Prediksi Polusi hingga Tiga Hari ke Depan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tengah menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara yang memungkinkan warga mengetahui prakiraan kondisi polusi hingga tiga hari ke depan. Sistem ini dikembangkan untuk memberikan informasi yang lebih akurat dan spesifik bagi seluruh wilayah ibu kota.

Sistem prakiraan tersebut dikembangkan oleh BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban. Teknologi ini diklaim mampu memetakan kondisi polusi udara secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan mencakup seluruh 44 kecamatan di Jakarta. Informasi yang dihasilkan meliputi enam jenis polutan utama, termasuk partikel halus PM2.5 yang menjadi salah satu indikator kunci pencemaran udara.

Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C. Nahas, menjelaskan bahwa SILAM Urban dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan. Dengan pendekatan ini, prakiraan kualitas udara yang dihasilkan menjadi lebih akurat dan spesifik untuk setiap wilayah di Jakarta.

“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta,” kata Albert dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

“Warga juga bisa melihat tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyebut pengembangan sistem peringatan dini kualitas udara menjadi bagian dari langkah strategis Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat. Menurut Dudi, sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga instrumen mitigasi yang memungkinkan pemerintah maupun masyarakat mengambil langkah antisipatif sebelum kualitas udara memburuk.

“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” ujarnya.

Dudi menambahkan bahwa keberadaan sistem prakiraan kualitas udara akan sangat membantu kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Dengan informasi yang tersedia lebih awal, warga dapat mengambil berbagai langkah pencegahan, seperti menggunakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara diperkirakan menurun.

“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan lebih baik terhadap risiko pencemaran udara,” imbuhnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar