Di penghujung Februari 2026 ini, perhatian dunia tertuju ke Jenewa. Di sana, juru runding Amerika Serikat dan Iran dikabarkan akan duduk berunding meski lewat perantara. Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menyoroti pertemuan ini. Menurutnya, hasil dari negosiasi yang alot ini bakal jadi titik balik besar bagi dinamika global.
Lewat akun X-nya pada Jumat (27/2/2026), SBY menuangkan kegelisahannya. Ia menulis, banyak pihak, terutama negara-negara Timur Tengah, menanti dengan was-was. Apa yang akan lahir dari meja perundingan? Kedamaian, atau justru korek api yang menyulut peperangan dahsyat?
“Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya?” tulisnya.
SBY mengakui, urusan nuklir Iran ini memang ruwet. Mencari titik temu antara kepentingan Washington dan Teheran bukan pekerjaan mudah. Kedua negara punya agenda yang nyaris berseberangan.
Yang bikin makin pelik, negosiasi berjalan di tengah ketegangan militer yang sudah memuncak. Dua negara itu seperti siap tempur. Di sisi lain, para juru runding juga harus paham betul pikiran para bos mereka: Presiden Donald Trump dan Ayatullah Khamenei.
“Membangun ‘harmoni’ antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah,” ucap SBY.
Negosiasi semacam ini, lanjutnya, memang melelahkan. Butuh kesabaran ekstra, kecerdikan, dan keuletan. Para negosiator harus siap berkompromi, bersedia untuk ‘take and give’. Mereka juga wajib memahami betul sasaran yang digariskan oleh pemimpin masing-masing.
Menurut pengamatan SBY, Trump dan Khamenei punya keunikan sendiri. Keduanya punya ego dan ambisi yang kuat, plus kepentingan pribadi yang tak bisa diabaikan.
“Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta ‘legacy’ indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan,” katanya.
Sementara bagi Khamenei, ini soal survival. Kekhawatiran terbesarnya adalah sengketa sengit ini bisa berujung pada pergantian rezim. “’He must go’. Berarti, ini merupakan ‘survival interest’ buat pemimpin Iran itu,” jelas SBY.
Banyak yang meramalkan, kegagalan perundingan akan langsung memicu perang besar. Ibaratnya, tinggal tunggu komando dari Trump dan Khamenei. Tapi SBY tak sepenuhnya sepakat.
“Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak,” ujarnya.
Apalagi, kata dia, jika para jenderal di kedua belah pihak turut mengawal proses pengambilan keputusan. Trump dan Khamenei diyakini tidak akan gegabah memerintahkan perang. Risikonya terlalu tinggi, taruhannya mahal sekali kalau salah langkah.
SBY lalu membagikan catatan bagi pemimpin yang mempertimbangkan jalan perang. Pertama, mereka harus memastikan apakah perang itu benar-benar keharusan (‘war of necessity’) atau sekadar pilihan (‘war of choice’).
Kedua, negara harus yakin bisa menang. Baik Trump maupun Khamenei perlu meyakinkan diri sendiri dengan logika dan akal sehat bahwa kemenangan itu mungkin.
“Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat,” tegas SBY. Suara rakyat dan pertimbangan para jenderal harus didengar, jangan terkubur ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang kerap berseloroh akan menghancurkan Iran, SBY mengingatkan untuk berpikir panjang. Jangan-jangan, menang perang saja sulit, apalagi mengakhirinya dengan baik.
“Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan,” katanya. Lalu dengan penekanan ia menambahkan, “Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.”
Di akhir, SBY menyampaikan pesan yang dalam, bukan cuma untuk Trump dan Khamenei, tapi untuk semua pemimpin dunia yang tangannya ada di dekat ‘tombol’ perang.
“Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan,” ujarnya.
Soal pengorbanan untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap. Itu tak perlu diragukan. Tapi, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit.
SBY menutup dengan sebuah kalimat yang ia anggap penting untuk diingat setiap pemimpin: “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for.” Prajurit tidak akan bertempur dan mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka berjuang.
Artikel Terkait
Bareskrim Gerebek Pabrik Gas Whip-pink di Kemayoran, Ratusan Tabung Diamankan
Bayern Munchen Tumbangkan Real Madrid 4-3, Lolos ke Semifinal Liga Champions
Anggota DPR Desak Kemendikbudristek Bersikap Tegas Soal 16 Mahasiswa FH UI Terduga Pelecehan Seksual
Peneliti ITB Peringatkan Dominasi Mobil Listrik China Bisa Guncang Industri Lokal, Belajar dari Kasus Thailand