Banjir Bandang Tamiang: Desa Hilang, Truk Bertumpuk, dan Masjid yang Bertahan

- Senin, 08 Desember 2025 | 16:20 WIB
Banjir Bandang Tamiang: Desa Hilang, Truk Bertumpuk, dan Masjid yang Bertahan

Bencana banjir di Aceh benar-benar memilukan. Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu yang paling menderita, bahkan kehilangan beberapa desanya seolah-olah tersapu dari peta.

Coba lihat foto ini. Sungguh sulit dipercaya, banjir bandang di Tamiang begitu dahsyatnya sampai-sampai truk-truk besar berhamburan dan bertumpuk tak karuan.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, dengan nada berat mengkonfirmasi hal itu. Menurutnya, sejumlah kampung di Aceh nyaris lenyak diterjang banjir parah pekan lalu.

"Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban," ujar Mualem.

Rasa sedih dan waswas jelas terasa dalam suaranya, terutama saat menyoroti empat wilayah terdampak paling mengerikan.

"Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa," jelasnya.

"Terutama sekali di empat kabupaten. Itu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen, itu yang paling kita sesali lah. Tapi apa boleh buat, itu bencana alam. Setiap bencana ada hikmahnya," lanjut Ketua Umum Partai Aceh itu.

Desa yang Hilang

Desa Sekumur di Aceh Tamiang adalah bukti nyata dari pernyataan Gubernur. Desa itu, kata warga, hilang disapu banjir bandang. Yang tersisa kini cuma sebuah masjid yang berdiri tegak, dikelilingi lautan kayu gelondongan dari berbagai ukuran. Pemandangan yang sungguh kontras.

Ketinggian air saat itu dikabarkan hampir menyentuh atap masjid. Beberapa warga terpaksa menyelamatkan diri dengan bertahan di atas tumpukan kayu yang tingginya nyaris menyamai puncak tempat ibadah itu. Sepi. Tak ada bangunan lain yang terlihat. Hanya air, lumpur, dan kayu.

Hendra, seorang warga, menyebut ada 280 rumah di Sekumur. Kini, penghuninya telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, meninggalkan kenangan dan reruntuhan.

Nasib serupa terlihat di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Kawasan Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di sana nyaris tak dikenali, tertimbun oleh tumpukan kayu dan lumpur tebal. Kayu-kayu gelondongan itu memenuhi segala sudut, menutupi akses jalan menuju desa.

Di tengah lautan material berserakan itu, hanya bangunan masjid dan ponpes yang masih bisa dikenali. Sementara pemandangan di sekelilingnya... rata. Tertutup oleh kayu dan lumpur yang dibawa oleh amukan air. Sebuah pemandangan yang lebih mirip lanskap pasca-badai besar daripada sebuah permukiman.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar