Sejak subuh, suasana di kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor sudah tak biasa. Ribuan orang berduyun-duyun memadati area, dari pelataran masjid hingga jalan-jalan di sekitar rumah duka. Mereka datang untuk mengantarkan kepergian sang pemimpin, KH Amal Fathullah Zarkasyi, yang jenazahnya dishalatkan di Masjid Jami' Gontor Pusat, Ponorogo, Minggu pagi itu.
Rumah duka tak pernah sepi. Silih berganti, wajah-wajah datang menyampaikan duka. Ada alumni yang sudah beruban, santri muda, hingga sejumlah tokoh nasional. Kerumunan yang begitu padat dan beragam itu, bagi banyak yang hadir, adalah bukti nyata betapa besar pengaruh dan rasa hormat untuk almarhum.
Di tengah lautan pelayat, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) turut menyampaikan penghormatan. Ia mengenang Kiai Amal bukan sekadar sebagai pimpinan pondok, melainkan seorang pejuang.
“Salah satu pemikiran beliau adalah lahirnya Undang-Undang Pesantren. Saya menyaksikan langsung bahwa itu bagian dari perjuangan beliau demi kemaslahatan pesantren, bukan hanya Gontor, tetapi pesantren di seluruh Indonesia,” kata HNW.
Menurutnya, kiprah almarhum terasa dari hal-hal besar seperti itu, tapi juga dari hal-hal sederhana. Meski memegang tampuk kepemimpinan, Kiai Amal dikenal sangat rendah hati dan dekat dengan kehidupan santri sehari-hari.
Artikel Terkait
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga
Suami Tewas Ditikam di Pelukan Istri di Lubuklinggau, Pelaku Masih Diburu
Prabowo Saksikan Penyerahan Denda Hutan Rp11,4 Triliun ke Kas Negara
Kebakaran Hanguskan Ruko Grosir Sepatu di Pematangsiantar, Tak Ada Korban Jiwa