KAMPAR - Sebuah nama yang tak biasa diberikan seorang ayah kepada anak lelakinya yang baru lahir di Kampar, Riau. Bayi itu dinamai Ali Khamenei, persis seperti nama Pemimpin Tertinggi Iran. Keputusan ini, yang awalnya hanya urusan keluarga, tiba-tiba saja menyedot perhatian luas.
Kisahnya pun ramai di media sosial. Yang mengejutkan, gelombang perhatian itu tak hanya datang dari dalam negeri. Bahkan, sampai menarik perhatian Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Beberapa perwakilannya rela terbang jauh untuk bertandang ke rumah keluarga sederhana di Kampar itu.
AP, sang ayah yang berusia 51 tahun, mengaku benar-benar tak menduga. "Iya, kemarin perwakilan Kedubes Iran datang langsung bertamu ke rumah kami," ujarnya.
Dia melanjutkan, "Mereka menyampaikan apresiasi mendalam atas pemberian nama bayi kami, Ali Khamenei."
Kunjungan itu tentu saja menjadi momen yang sangat istimewa bagi keluarga ini. Sebuah kehormatan yang sama sekali tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. AP bercerita, niat awalnya sederhana saja: memberi nama dengan harapan baik. Siapa sangka, itu malah membuatnya terkenal sampai ke mancanegara.
"Pihak Iran merasa bangga dan terhormat. Bagi kami, kedatangan mereka adalah sebuah penghargaan besar," katanya, masih terlihat takjub. Bahkan, nama sang bayi disebut-sebut sudah masuk pemberitaan di beberapa media Iran.
Namun begitu, AP menegaskan bahwa pemberian nama ini bukanlah tindakan yang gegabah. Dia tak mau dianggap sembarangan. Sebelum memutuskan, dia telah melakukan langkah yang cukup formal: berkomunikasi dan meminta izin langsung kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Langkah itu diambil sebagai bentuk penghormatan. Di balik nama yang sarat makna politik global itu, tersimpan harapan seorang ayah yang universal: agar anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan membawa kebaikan.
Artikel Terkait
Pengacara Tom Lembong dan Nadiem Makarim Kritik Penegakan Hukum yang Dianggap Serampangan dan Ancam Masa Depan Negara Hukum
Pemkot Makassar Raih Penghargaan Nasional atas Komitmen Wajib Belajar 13 Tahun
Wakil Rektor UGM: Demokrasi Indonesia Bangkrut Akibat Defisit Reformasi Sistemik
Viral Risol Matcha Picu Perbandingan dengan Dadar Gulung, Jajanan Tradisional Khas Makassar