Wakil Rektor UGM: Demokrasi Indonesia Bangkrut Akibat Defisit Reformasi Sistemik

- Selasa, 26 Mei 2026 | 17:00 WIB
Wakil Rektor UGM: Demokrasi Indonesia Bangkrut Akibat Defisit Reformasi Sistemik

Aktivis 98 yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, menilai demokrasi Indonesia saat ini tengah mengalami kebangkrutan. Menurutnya, salah satu akar persoalan tersebut berasal dari defisit reformasi yang berlangsung secara sistemik. Ia menyayangkan praktik reformasi yang mengalami pengurangan luar biasa, sementara publik cenderung memaklumi realitas tersebut.

“Penguasa ini terlalu underestimate ke rakyat. Praktik ini yang saya ingin tekankan buat kita semua bahwa kampus pun sekarang dilakukan depolitisasi. Praktik-praktik ini terlihat dari cara kampus diperlakukan,” kata Arie dalam acara Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus yang ditayangkan melalui kanal YouTube Mahfud MD Official, Senin (25/5/2026).

Ia mencontohkan, depolitisasi kampus diwujudkan melalui pengurangan anggaran pendidikan. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta dipaksa bersaing memperebutkan mahasiswa. Kondisi ini, menurut Arie, menjadi alasan perlunya repolitisasi terhadap demokrasi.

“Hukum itu penting sebagai salah satu pilar untuk mengawal reformasi dan demokrasi. Tapi, yurisdiksi dan terlalu dominannya hukum dalam membaca politik hukum tadi diibaratkan sekadar dijadikan justifikasi maka keadilan tidak datang. Politik kita terlalu disimplifikasi dengan cara-cara teknokrasi. Saya tadi sempat menyampaikan ke Pak Mahfud apa yang rusak dari politik kita, kehilangan ideologi,” ujarnya.

Arie menambahkan, krisis yang terjadi bersifat sistematis di dunia politik, namun begitu mudah dimaklumi. Mulai dari dinasti politik, oligarki, hingga kartel politik semuanya dipandang sebagai peristiwa biasa. Akibatnya, krisis ekonomi dan politik saling bertemu dan memperparah keadaan.

Menurut Arie, semua gejala itu seharusnya menjadi penanda bagi publik untuk menerjemahkan ulang makna reformasi. Ia mengingatkan, jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, kebangkrutan demokrasi akan dianggap sebagai sesuatu yang lazim.

“Menurut saya, kita harus juga ingatkan kembali ruang masyarakat sipil. Sebenarnya kesempatannya makin terbuka jika kita memanfaatkan teknologi, informasi, dan ruang kebebasan ini harus diisi dengan memastikan ada roadmap yang jelas untuk memastikan reformasi bisa berjalan. Tanpa itu, tidak akan pernah dan kita harus evolusi. Kita tidak boleh sekadar berhenti pada logika kata-kata yang sekadar mengalirkan. Faktanya, terjadi penindasan dan praktik penindasan itu terjadi di bawah,” kata Arie.

Ia pun mengusulkan agar kampus-kampus merumuskan repolitisasi demokrasi, yakni mengembalikan demokrasi pada ranah politik. Sebab, politik pada hakikatnya adalah keterampilan untuk memengaruhi dan mengontrol kekuasaan. Terlebih, saat ini tidak ada lagi oposisi yang berfungsi sebagai penyeimbang. Semua pihak cenderung bungkam.

Di sisi lain, Arie menyoroti munculnya adagium “no viral no justice”. Meskipun pahit, ia menilai fenomena itu seharusnya bisa dijemput oleh masyarakat sipil sebagai bentuk kontrol publik. Tanpa kontrol yang kuat, apalagi ditambah ketiadaan oposisi, demokrasi akan semakin terpuruk.

Meskipun demikian, Arie mengaku masih memiliki keyakinan terhadap anak-anak muda. Ia merujuk pada sikap generasi muda yang sempat dianggap underestimate terhadap negara pascapemilu 2024 dijuluki sebagai generasi gemoy dan generasi strawberry. Namun, Arie meyakini anak-anak muda tetap memiliki kecerdasan.

Ia mencontohkan, ketika ketegangan politik terjadi pada 2025, anak-anak muda mampu tampil dan berperan. Oleh karena itu, ia menegaskan, ketika ada inisiatif dari generasi muda, jangan dihakimi. Sebaliknya, inisiatif tersebut harus didorong agar terus berkembang.

“Selain kita perlu melakukan repolitisasi demokrasi, kita perlu memperkuat kembali oposisi karena dengan oposisi itu demokrasi akan sehat. Saya rasa juga, kalau kita 28 tahun reformasi ini bukan meromantisasi, tapi menilai ulang mengenai capaian-capaian yang sudah ada dan kecenderungan bangkrut dan merosot itu karena apa? Apa ini tidak bisa diselamatkan? Bisa. Salah satunya memanfaatkan momentum melakukan konsolidasi yang lebih konkret untuk melakukan perubahan dan perbaikan,” ujar Arie.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar