Pada pertengahan abad ke-20, Amerika Serikat bersama sekutunya, termasuk Inggris, mulai merancang visi perdagangan global yang ambisius. Noam Chomsky dalam bukunya Memeras Rakyat: Neoliberalisme dan Tatanan Global menyebut fenomena ini sebagai 'hasrat akan pasar bebas'. Rencana tersebut awalnya menghasilkan kesepakatan tentang hak asasi manusia, uji coba nuklir, militer, dan lingkungan. Namun, tak lama kemudian, rencana itu berubah menjadi proses transmisi nilai-nilai Amerika secara terselubung melalui teknologi telekomunikasi.
Melalui kekuatan media telekomunikasi, Amerika Serikat memanfaatkan World Trade Organization (WTO) untuk menguasai batas pasar negara lain, termasuk hukum, nilai, dan praktik yang beroperasi di dalamnya. Perkembangan ini berlanjut dengan metamorfosis telekomunikasi tradisional menjadi World Wide Web (WWW) atau internet. Peristiwa ini menjadi peluit awal bisnis daring global, didorong oleh motif penguasaan pasar dan privatisasi oleh megaperusahaan Amerika Serikat. Motif tersebut berjalan seiring dengan hasrat Amerika untuk menjadi penguasa bagi negara lain, termasuk sekutunya sendiri.
Hari ini, kecurigaan serupa perlu diarahkan pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Mereka yang Terlupakan
Di tengah mega proses pencanggihan ini, ada kelompok masyarakat yang hampir terlupakan: mereka yang berada di luar gelanggang pasar global. Mereka tidak terlibat langsung, tetapi terkena dampak. Reserve, jurnal terkemuka di London yang dikutip Chomsky, melaporkan bahwa sekitar dua juta anak di Inggris menderita gangguan tumbuh kembang akibat malnutrisi pada masa itu. Chomsky menegaskan bahwa kondisi ini merupakan akibat kemiskinan berskala besar yang belum pernah terjadi sejak 1930-an.
Laporan lain menyebutkan satu dari tiga bayi lahir dalam kemiskinan, serta terjadi pengurangan pasokan energi dan pemotongan anggaran program sosial. Akses telepon bagi masyarakat kelas bawah juga mulai terbatas. Nasib malang ini disebabkan keikutsertaan pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Margaret Thatcher dalam perjanjian dagang global, yang memaksanya memotong dana publik demi memenuhi komitmen perjanjian.
Jika ditarik ke konteks hari ini, dampak serupa dapat dirasakan pada berbagai layar digital atau platform media sosial. Ancaman tidak lagi sebatas fisik, melainkan merembet pada mental, krisis identitas, hingga alienasi.
Yang Terasing
Contoh paling dekat terlihat dari cara masyarakat berkomunikasi sehari-hari. Keterhubungan antarindividu terasa kering dan hampa, tanpa impresi emosional yang mendalam. Pertemuan tatap muka hanya menjadi formalitas untuk menuntaskan urusan yang belum selesai di platform maya.
Layar media sosial juga telah mengubah cara hidup manusia. Proses memulai percakapan dan menanggapi persoalan sering dilakukan tergesa-gesa dan berakhir pada penghakiman. Melalui pola algoritma, pikiran masyarakat tidak hanya terdistraksi oleh arus informasi cepat, tetapi diam-diam dibentuk tanpa disadari.
Kekhawatiran ini ditemukan kembali dalam pemikiran Chomsky. Dalam wawancara dengan Barry Pateman pada 2004, ia membongkar bahwa masyarakat yang menghabiskan waktu di dalam layar gawai hidup dalam dunia imajiner. Dunia ini penuh dengan kepribadian palsu, di mana pengguna menciptakan beragam karakter palsu yang berinteraksi secara ilusif. Anehnya, dalam operasi digital ini, kita menganggap diri kita benar-benar ada, padahal interaksi melalui satu klik tersebut tidak merepresentasikan eksistensi yang sesungguhnya.
Buya Syafii
Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii memiliki kerisauan serupa terhadap rezim teknologi. Dalam bukunya Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman, ia memandang teknologi secara netral sebagai alat yang tidak berbahaya jika tidak dioperasikan. Namun, di balik kenetralannya, terdapat risiko ketiadaan keamanan ontologis yang bisa timbul kapan saja. Teknologi lahir dari peradaban modern yang tidak menawarkan keamanan tersebut.
Ketiadaan keamanan ini dapat memicu penyalahgunaan yang merubuhkan kenyataan diri manusia. Umat Islam yang hanyut dalam situasi ini berisiko menjadi konsumen yang lalai. Buya Syafii menulis, "Manusia, sebagai sebuah roda gigi produksi, telah menjadi sesuatu, dan berhenti menjadi manusia." Ia juga mengingatkan, "Dan kita, sebagai Muslim yang hanyut dalam situasi tersebut, dan hanya berdiri sebagai konsumen yang lalai atas penemuan tersebut, tidak hanya menghentikan diri kita sebagai manusia, tetapi pada gilirannya, tidak hanya berhenti menjadi manusia, tetap akan menjadi masyarakat sakit yang tak berguna pula."
Untuk mengatasi masalah ini, umat Islam perlu memperkuat tanggung jawab moral dengan memeriksa teknologi secara kritis. Ilmu pengetahuan Islam harus diletakkan di atas pusat kesadaran manusia sebagai modal pengendalian teknologi. Dengan cara demikian, keliaran teknologi dapat dihindari karena ubun-ubun manusia telah terislamkan secara wajar. Melalui kesadaran ini, kita tidak lagi sekadar konsumen pasif, tetapi mampu melibatkan pusat kesadaran dalam memperlakukan teknologi secara layak. Kecakapan diri ini perlu dipersiapkan dalam menghadapi penjelmaan teknologi mutakhir, termasuk AI, agar manusia tidak dikendalikan oleh kecanggihannya.