Pertarungan Dua Kekuatan Penegak Hukum: Coklat Muda vs Coklat Tua

- Jumat, 10 Juli 2026 | 16:00 WIB
Pertarungan Dua Kekuatan Penegak Hukum: Coklat Muda vs Coklat Tua

Jumpa pers Jampidsus Febrie Adriansyah hari ini mengindikasikan bahwa pertarungan antara dua kubu penegak hukum yang disebut sebagai coklat muda dan coklat tua masih jauh dari selesai. Jampidsus disebut memiliki banyak rudal dan drone yang bisa ditembakkan balik.

Di sisi lain, kubu coklat muda sudah unggul karena memiliki barang bukti berupa harta fantastis senilai setengah triliun rupiah. Kini tantangannya adalah membuktikan hubungan antara barang bukti tersebut dengan sangkaan yang akan dilayangkan. Jika tidak bisa dibuktikan, serangan balik akan terjadi.

Isu korupsi Badan Gizi Nasional (BGN) secara tersirat menjadi pemicu perang kewenangan antarpenegak hukum. Namun, itu hanyalah pemicu dari banyaknya gesekan sebelumnya.

Melihat peta saat ini, menaklukkan coklat tua tidak semudah yang dibayangkan, meskipun coklat muda memiliki perangkat yang lebih komplit, termasuk satuan elit Brimob. Sebab, dengan dukungan TNI, posisi coklat tua juga kuat.

Keunggulan Masing-masing Kubu

Coklat tua memiliki keunggulan terkait mekanisme penegakan hukum dalam sistem Integrated Criminal Justice System. Semua hasil penyidikan di coklat muda akan berpindah ke coklat tua sebelum ke pengadilan. Jika dinilai tidak bisa jalan, kasusnya akan berhenti alias SP3.

Jika coklat tua ingin bergerak fight back secara masif, semua petinggi coklat muda bisa dibidik, disidik, dikejar aset-asetnya, dan diproses secara hukum pidana khusus. Sebab, coklat tua selain sebagai penuntut umum juga memiliki hak melakukan penyidikan untuk pidana khusus. Jika coklat tua yang membidik, coklat muda tidak bisa menghentikan proses hukumnya.

Jika kartu truf kewenangan ini dijalankan, banyak petinggi Polri yang kekayaannya tidak wajar akan digaruk coklat tua, dan saat melaksanakan akan didukung oleh hijau loreng. Publik tentu tahu bahwa di coklat muda banyak oknum yang kekayaannya tidak wajar, bahkan banyak yang membekingi narkoba, judi, dan lainnya. Sumber uangnya banyak ruang abu-abu dan hitam pekat jika dikaitkan dengan penghasilan riil resminya.

Pertarungan akan seru dan rakyat disuguhi hiburan penegakan hukum yang unik di tengah kurs rupiah yang kembali di atas Rp18 ribu per dolar AS dan ancaman PHK akibat banyak perusahaan yang tutup.

Bursa taruhan pun terbuka: kesebelasan coklat muda versus coklat tua. Siapa yang akan menang jika bertarung lepas? Namun, jika "Presiden FIFA" turun tangan, bursa taruhan bisa berubah. Semoga masih netral agar rakyat bisa melihat bagaimana saling bongkar bunker lawan. Diyakini mereka sama-sama punya bunker dengan isi yang sama: uang gelap.

Anda pasang taruhan di mana? Jangan sudah berpikir nasib hukum republik ini, karena kita akan menganut hukum alam dengan penegakan hukum karma, yang didahului pelaksanaan hukum rimba di sesama oknum penegak hukum.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags