Hamas mulai mengalihkan pusat aktivitas politiknya ke Turki, sementara tetap mempertahankan hubungan erat dengan Qatar. Langkah ini menjadi bagian dari penyesuaian strategi di tengah dinamika baru kawasan.
Gerakan itu juga menunjukkan pendekatan terhadap Suriah. Dalam pernyataan terbaru, Hamas menyatakan solidaritas setelah pemboman di Damaskus, menandai mencairnya hubungan yang sempat membeku akibat perang saudara Suriah.
Perubahan poros ini tidak lepas dari realitas geopolitik yang lebih luas. Suriah kini tengah memperdalam hubungan dengan Turki dan melanjutkan reintegrasi ke panggung regional, termasuk kembali ke Liga Arab. Di sisi lain, Ankara memposisikan diri sebagai mediator utama dan pendukung perjuangan Palestina, memberi ruang diplomatik bagi Hamas.
Faktor Pendorong
Tekanan global mendorong Hamas mencari basis yang lebih aman di luar pangkalan tradisionalnya. Turki menawarkan ruang politik yang cukup, sementara Qatar tetap menjadi mitra strategis sebagai penyedia bantuan kemanusiaan dan jalur komunikasi bagi faksi-faksi di Gaza.
Pendekatan ke Suriah juga membuka peluang konsolidasi dengan jaringan regional yang dikenal sebagai poros perlawanan. Semakin banyak ibu kota regional yang menerima Hamas secara diplomatik, semakin sulit bagi Israel dan Barat untuk mengisolasi gerakan tersebut.
Foto: Delegasi senior Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya bertemu Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di Istanbul.
Artikel Terkait
Suriah Tangkap Sel Pelaku Bom Damaskus, Identitas Anggota Akan Diungkap
18 Terluka dalam Ledakan di Dekat Hotel Tempat Macron Menginap di Damaskus
Trump Buka Peluang Jual Jet Tempur F-35 ke Turki, Bertolak Belakang dengan Permintaan Netanyahu
Hamas Bubarkan Pemerintahan di Gaza, Serahkan Kekuasaan ke Komite Teknokrat