Konspirasi Portugis-Safawi dan Peran Turki Utsmani Menyelamatkan Dua Kota Suci

- Kamis, 09 Juli 2026 | 18:40 WIB
Konspirasi Portugis-Safawi dan Peran Turki Utsmani Menyelamatkan Dua Kota Suci

Pada tahun 1498, pelaut Portugis Vasco da Gama berhasil menemukan jalur laut ke India melalui Tanjung Harapan. Penemuan ini menjadi titik balik dalam sejarah konfrontasi antara Eropa dan Dunia Islam. Sejak saat itu, kekuatan Eropa mampu memutar haluan melewati Dunia Islam tanpa harus bergantung pada jalur perdagangan darat yang melintasi Mesir, Syam, dan Jazirah Arab. Babak baru ekspansi maritim Eropa pun dimulai.

Namun, bagi Portugis, misi ini bukan sekadar urusan dagang. Mereka membawa sentimen Perang Salib yang terstruktur: sebuah proyeksi besar untuk melumpuhkan Islam sebagai agama, memonopoli jalur perdagangan dunia, dan menghantam jantung spiritual Islam. Memasuki awal abad ke-16, Afonso de Albuquerque mengambil alih komando proyek Portugis di Samudra Hindia. Di sinilah ia merancang rencana yang tercatat sebagai salah satu konspirasi paling mengerikan dalam sejarah Islam.

Rencana Albuquerque

Fase pertama dari rencana tersebut adalah menguasai titik-titik masuk Teluk Arab, Laut Merah, dan Selat Bab al-Mandab, serta menduduki pulau-pulau dan pelabuhan strategis. Setelah itu, mereka berniat mendaratkan pasukan untuk menyerang Mekah dan Madinah, meruntuhkan Kakbah, hingga membongkar makam Nabi Muhammad untuk membawa jasadnya ke Lisbon sebagai sandera. Ini adalah upaya keji untuk menginjak harga diri umat Muslim dan menghancurkan pusat spiritual mereka.

Fase kedua tak kalah ekstrem. Albuquerque berencana meledakkan pegunungan di sekitar hulu Sungai Nil Biru untuk mengalihkan aliran airnya dari utara ke arah timur. Strategi ini dirancang untuk membuat rakyat Mesir kelaparan dan melumpuhkan total negara tersebut, sehingga mereka tidak punya kemampuan untuk menyelamatkan Syam dan Hijaz, sebelum akhirnya Portugis mencengkeram Yerusalem. Pada tahun 1514, Albuquerque mengirimkan dua surat kepada Raja Portugis, Manuel I, yang berisi detail cetak biru rencana ini demi mendapatkan persetujuan sang raja.

Di saat yang sama, Albuquerque memanfaatkan fanatisme Syah Iran, Ismail Safawi, yang saat itu sedang berambisi menyebarkan mazhab Syiah secara paksa di Dunia Islam. Portugis membuka komunikasi dan menjalin aliansi langsung dengan Dinasti Safawi. Kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama mengepung umat Muslim: Safawi menyerang dari sisi timur, sementara armada laut Portugis menekan dari selatan melalui Teluk Arab dan Laut Merah. Sebuah skenario matang untuk memecah belah dan menghancurkan umat.

Bangkitnya Turki Utsmani

Ketika Albuquerque sibuk mempersiapkan pasukannya merebut pulau-pulau di Samudra Hindia untuk dijadikan pangkalan militer serta menguasai pelabuhan Teluk Arab sebagai batu loncatan menuju Laut Merah Allah menganugerahkan pertolongan kepada Dunia Islam. Pertolongan itu hadir lewat bangkitnya Wangsa Turki Utsmani. Ironisnya, dinasti inilah yang belakangan kerap dicela oleh sebagian kalangan sekuler Arab di media dan buku-buku sejarah palsu mereka.

Pada masa genting itu, Kesultanan Mamluk yang menguasai Mesir sedang mengalami fase penuaan, kelemahan, dan perpecahan internal. Mereka tak lagi mampu melindungi perairan Laut Merah atau menjamin keamanan jalur haji dan perdagangan. Akibatnya, ancaman Portugis bergerak makin dekat ke Dua Kota Suci.

Namun, Khilafah Turki Utsmani dengan sigap membaca situasi. Sultan Selim I menyadari sejak awal betapa gelapnya ancaman yang mengintai. Dunia Islam sedang dikepung dari dua front sekaligus: Safawi di jalur darat dan Portugis di jalur laut. Oleh karena itu, setelah berhasil menumbangkan kekuatan Safawi dalam Pertempuran Chaldiran pada tahun 1514, Sultan Selim langsung mengalihkan fokusnya ke Syam dan Mesir. Beliau tahu betul, jika kedua wilayah itu dibiarkan berada di luar kendali Turki Utsmani, jalan bagi Portugis untuk mengobrak-abrik Mekah dan Madinah akan terbuka lebar.

Pasukan Turki Utsmani akhirnya memasuki Syam pada tahun 1516, disusul Mesir pada tahun 1517. Dengan runtuhnya Mamluk, kedaulatan atas wilayah Hijaz pun berpindah ke tangan Turki Utsmani. Sejak momen itulah, Wangsa Turki Utsmani memikul tanggung jawab penuh sebagai pelindung Dua Kota Suci dan pengaman rute haji.

Tidak berhenti sampai di situ, Turki Utsmani mendeklarasikan bahwa Laut Merah dan Teluk Arab adalah wilayah perairan Islam yang tertutup rapat bagi kapal-kapal Eropa. Mereka memperkuat pangkalan militer di Suez, Jeddah, dan Aden, lalu meluncurkan serangkaian kampanye militer laut melawan Portugis di Laut Merah, Teluk Arab, hingga Samudra Hindia. Langkah defensif yang masif ini berhasil menggagalkan proyeksi besar yang telah dirancang oleh Albuquerque.

Strategi ini mendulang sukses besar. Laut Merah berhasil disterilkan dari armada Eropa selama hampir tiga abad. Pengaruh Eropa di kawasan tersebut menjadi sangat terbatas hingga akhir abad ke-18, dan baru kembali meluas secara bertahap saat Khilafah Turki Utsmani mulai melemah di abad ke-19.

Maka dari itu, peran Wangsa Turki Utsmani bukan sekadar menyatukan Syam, Mesir, dan Hijaz di bawah satu bendera. Lebih dari itu, mereka berhasil membendung rencana paling berbahaya yang pernah mengincar jantung peradaban Islam. Mereka menjaga kesucian Haramain dan memastikan Portugis tidak pernah menginjakkan kaki di Mekah dan Madinah.

Jika saja Allah tidak menghadirkan Wangsa Turki Utsmani di momen krusial tersebut, dan andai saja aliansi Portugis-Safawi berhasil mewujudkan rencana mereka, Dunia Islam dipastikan akan menghadapi bencana kemanusiaan yang teramat mengerikan. Nasib umat Muslim di berbagai belahan dunia mungkin saja akan berakhir tragis seperti penduduk asli Amerika yang mengalami genosida dan kepunahan di tangan kekejaman kolonial Eropa.

Kehadiran Khilafah Turki Utsmani di titik sejarah tersebut adalah salah satu faktor terbesar bertahannya Dunia Islam. Kita tidak akan pernah bisa memahami dinamika sejarah abad ke-16 secara utuh tanpa mengakui peran heroik Turki Utsmani dalam melindungi Islam, menjaga Dua Kota Suci, mengamankan rute haji, dan menghancurkan ambisi imperialisme Portugis.

Sekarang, mungkin kita mulai paham, mengapa orang-orang kerdil hari ini begitu bernafsu mencela Wangsa Turki Utsmani.

Catatan:

  1. Dokumen-dokumen Portugis abad ke-16 mengonfirmasi bahwa Albuquerque memiliki pandangan mesianik-kruseder. Dalam surat-suratnya kepada Raja Manuel I, ia memang mengusulkan proyek-proyek radikal tersebut untuk menghancurkan kekuatan ekonomi dan spiritual peradaban Islam.
  2. Rencana pengalihan Sungai Nil dilakukan dengan mencoba menjalin kontak dengan Kaisar Ethiopia, meski pada akhirnya rencana ini secara teknis mustahil dilakukan pada abad ke-16.
  3. Hubungan diplomatik antara Kekaisaran Portugis dan Dinasti Safawi di bawah Syah Ismail I adalah fakta nyata. Kedua kekuatan ini disatukan oleh kepentingan geopolitik yang sama: menghadapi Kesultanan Mamluk dan Khilafah Turki Utsmani. Portugis mengirim utusan ke istana Safawi dan bahkan membantu menyediakan persenjataan serta berjanji melakukan pengepungan bersama di wilayah Teluk Persia.
  4. Kemunduran Mamluk dan intervensi Sultan Selim I: Memang benar bahwa Kesultanan Mamluk di Mesir runtuh secara ekonomi akibat pengalihan rute dagang oleh Portugis dan kalah secara teknologi militer laut. Sultan Selim I dari Turki Utsmani merebut Syam (1516) dan Mesir (1517) setelah memenangkan Pertempuran Chaldiran (1514) melawan Safawi. Motivasi utama Turki Utsmani memang untuk mengamankan kepemimpinan Dunia Islam dan membendung penetrasi Portugis yang sudah mulai masuk ke Laut Merah dan mengancam Jeddah dan Mekah.
  5. Penutupan Laut Merah selama tiga abad: Kontrol Turki Utsmani berhasil mengubah Laut Merah menjadi danau Turki Utsmani yang tertutup bagi kapal-kapal Kristen/Eropa selama berabad-abad. Namun, pada akhir abad ke-18, dominasi ini sudah mulai runtuh, sehingga durasi efektifnya sekitar 2,5 abad.
  6. Armada Turki Utsmani di bawah laksamana seperti Piri Reis aktif memburu Portugis di Samudra Hindia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags