Korban Tewas Kebakaran Hutan di Spanyol Selatan Bertambah Jadi 12 Orang

- Jumat, 10 Juli 2026 | 17:30 WIB
Korban Tewas Kebakaran Hutan di Spanyol Selatan Bertambah Jadi 12 Orang

Korban tewas akibat kebakaran hutan yang melanda Los Gallardos, Provinsi Almeria, Spanyol selatan, bertambah menjadi 12 orang. Gelombang panas ekstrem yang mencengkeram sebagian besar wilayah negara itu memperparah situasi. Sekitar 150 petugas pemadam kebakaran masih berupaya menjinakkan kobaran api, sementara 19 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Sebagian korban ditemukan tewas hangus terbakar di dalam kendaraan. Enam orang lainnya mengalami luka-luka. Kebakaran terjadi di sebuah dusun di kawasan semi-kering dekat Pegunungan Sierra de Los Filabres.

Penyebab kebakaran belum dipastikan. Namun, menurut otoritas setempat, sejumlah warga yang pertama kali melaporkan kejadian itu menyebut kabel listrik yang putus memicu percikan api yang kemudian dengan cepat merambat ke kawasan hutan.

Pemerintah Spanyol mengerahkan Unit Darurat Militer (UME) untuk membantu operasi pemadaman. Kebakaran memaksa penutupan sejumlah ruas jalan dan evakuasi sekitar 1.000 penduduk, menurut layanan darurat.

Kebakaran paling mematikan

Pemerintah daerah Andalusia menyatakan kebakaran ini merupakan yang paling mematikan dalam sejarah wilayah tersebut. Kepala Pemerintahan Andalusia, Juan Manuel Moreno, mengatakan duka mendalam menyelimuti kawasan itu.

"Hati kami diliputi kesedihan dan kami sangat berduka," tulis Moreno melalui akun X.

Spanyol dalam beberapa tahun terakhir berulang kali dilanda gelombang panas ekstrem, dengan suhu yang kerap melampaui 40 derajat Celsius. Kombinasi angin kencang, suhu tinggi, dan minimnya curah hujan membuat kebakaran kecil mudah berkembang menjadi kobaran api yang sulit dikendalikan.

Pada Juni lalu, Spanyol mengalami beberapa hari dengan suhu tertinggi dalam sejarah pencatatan modern. Gelombang panas tersebut dikaitkan dengan lebih dari 1.000 kematian berlebih.

Kebakaran di Almeria juga terjadi ketika sebagian Eropa Barat menghadapi gelombang panas ketiga dalam enam pekan terakhir.

Menurut Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa, Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Sejak 1980-an, laju kenaikan suhu di kawasan itu mencapai dua kali rata-rata global. Secara global, 2025 menjadi tahun terpanas ketiga yang pernah tercatat, memicu serangkaian gelombang panas ekstrem di berbagai negara Eropa.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, minyak bumi, dan batu bara meningkatkan frekuensi serta intensitas cuaca panas dan kekeringan. Kondisi itu membuat banyak wilayah semakin rentan terhadap kebakaran hutan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags