Harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat kembali melonjak tajam setelah sempat turun dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran, yang mendorong harga minyak mentah ke kenaikan mingguan terbesar dalam delapan pekan terakhir. Rata-rata harga BBM di SPBU AS naik 6 sen menjadi USD 3,88 per galon pada Jumat (10/7), mencatat kenaikan mingguan tertinggi sejak pertengahan Mei.
Gangguan dalam sistem penyulingan global dan tingginya ekspor bahan bakar AS semakin memperketat pasokan. Kenaikan harga bensin yang terjadi di tengah liburan musim panas ini menjadi sorotan politik bagi Presiden Donald Trump, yang partainya tengah berkampanye untuk mempertahankan mayoritas tipis di Kongres dalam pemilihan paruh waktu November mendatang. Trump sebelumnya menuduh perusahaan minyak melakukan praktik penentuan harga yang tidak wajar.
"Harga bensin telah melonjak seiring dengan kenaikan besar harga minyak mentah setelah beberapa kapal tanker di Selat Hormuz diserang," kata Direktur Strategi Pasar Energi StoneX, Alex Hodes. Patokan harga minyak berjangka global Brent naik sekitar 5,5 persen secara mingguan setelah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, diikuti serangan balasan antara AS dan Iran serta keputusan Washington mencabut izin umum penjualan minyak Iran.
Aliran minyak melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik, memicu kekhawatiran bahwa gangguan kecil pun dapat berdampak luas pada pasar bahan bakar global. Trump telah mendesak pengecer bensin untuk menurunkan harga lebih agresif, sementara pemerintah mendesak Departemen Kehakiman menyelidiki kemungkinan praktik penentuan harga yang tidak wajar.
Pasokan Minyak Makin Ketat
Sektor penyulingan minyak Rusia terganggu akibat serangan berulang yang mengurangi produksi bahan bakar dan memperburuk kelangkaan. Moskow membatasi ekspor diesel dan meningkatkan impor bensin, memperketat pasokan global dan menaikkan harga. Kepala Penasihat Energi Gulf Oil, Tom Kloza, mengatakan produksi bensin, solar, bahan bakar jet, dan minyak bakar Rusia telah hancur dan diperkirakan akan mengalami masa henti produksi berbulan-bulan.
Di AS, gangguan operasional kilang semakin memperburuk pasokan, termasuk di kilang Marathon Petroleum berkapasitas 146.000 barel per hari di Detroit, Michigan, dan kilang Delta berkapasitas 190.000 barel per hari di Trainer, Pennsylvania. Data Badan Informasi Energi pada Rabu (8/7) menunjukkan persediaan bensin AS turun 1,9 juta barel pekan lalu menjadi 212,1 juta barel, hampir 10 juta barel di bawah rata-rata lima tahun. Persediaan di Pantai Teluk AS, yang menghasilkan sebagian besar pasokan produk olahan, turun menjadi 76,4 juta barel, di bawah rata-rata lima tahun sebesar 82,3 juta barel.
Hilangnya pasokan minyak dari Timur Tengah dan Rusia dari pasar global memungkinkan kilang AS menuai margin lebih kuat sebagai pemasok bahan bakar utama. Ekspor produk minyak bumi AS mencapai rekor mingguan 8,7 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 3 Juli, menurut data EIA. "Teluk Meksiko AS mungkin akan menyaksikan ekspor bensin yang konsisten sebesar 1 juta barel per hari, dan ada taruhan di antara para pedagang di Houston mengenai apakah ekspor distilat akan mencapai 2 juta barel per hari," tulis Kloza.
Musim berkendara di AS pada musim panas, yang berlangsung dari Juni hingga awal September, biasanya meningkatkan konsumsi bensin, sementara produksi bahan bakar campuran musim panas yang lebih mahal meningkatkan biaya penyulingan, sehingga menaikkan harga di SPBU.
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Berjanji Balas Dendam atas Kematian Ayahnya
Mojtaba Khamenei Serukan Balas Dendam atas Kematian Ayahnya, Sebut sebagai Tuntutan Bangsa
Trump Ancam Luncurkan Ribuan Rudal ke Iran Jika Upaya Pembunuhan Terjadi
Trump Sebut Negosiasi AS-Iran Berlanjut Meski Gencatan Senjata Berakhir