Pencarian Korban Ambruknya Gedung di Filipina Dihentikan, 16 Pekerja Konstruksi Masih Hilang

- Selasa, 26 Mei 2026 | 17:50 WIB
Pencarian Korban Ambruknya Gedung di Filipina Dihentikan, 16 Pekerja Konstruksi Masih Hilang

Operasi pencarian dan penyelamatan korban ambruknya sebuah gedung bertingkat di Angeles City, Filipina, resmi dihentikan pada Senin (25/5) malam setelah tim penyelamat tidak lagi mendeteksi tanda-tanda kehidupan di bawah tumpukan reruntuhan. Keputusan ini diambil setelah alat pendeteksi kehidupan yang dikerahkan sejak hari pertama tidak menunjukkan adanya aktivitas biologis, memaksa pihak berwenang mengalihkan fokus pada pencarian jenazah korban mulai Selasa (26/5).

Sebelum penghentian operasi, harapan sempat muncul pada Senin pagi ketika sensor termal milik tim penyelamat menangkap sinyal yang diyakini sebagai “tanda-tanda kehidupan” di salah satu titik reruntuhan. Namun, setelah dilakukan penggalian dan pemeriksaan menyeluruh, petugas tidak menemukan satu pun korban selamat maupun jenazah di lokasi tersebut, demikian disampaikan Maria Leah Sajili, petugas informasi di Biro Pemadam Kebakaran regional.

Hingga saat ini, sedikitnya empat orang dipastikan tewas dalam musibah tersebut. Salah satu korban adalah seorang wisatawan asal Malaysia yang terjebak di sebuah penginapan yang tertimpa puing-puing gedung sembilan lantai itu. Sementara itu, sebanyak 16 orang lainnya sebagian besar pekerja konstruksi masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan.

Duka mendalam menyelimuti keluarga korban. Evelyn Alicaway (19) mengaku mengetahui kecelakaan itu dari pamannya. Setelah melihat video yang beredar di media sosial, ia langsung mengenali ayahnya yang tengah berusaha ditarik tim penyelamat dari reruntuhan. “Meskipun wajahnya diburamkan, saya langsung tahu itu dia. Sangat menyakitkan melihat ayah saya seperti itu,” ujarnya sambil menangis di pemakaman sang ayah.

Dalam konferensi pers pada Selasa (26/5), pihak berwenang menyampaikan simpati kepada seluruh keluarga korban. “Kami turut bersimpati atas apa yang Anda alami. Yakinlah, kami telah melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan nyawa, dan sekarang kita harus melangkah maju,” kata Maria Leah Sajili mewakili tim penyelamat.

Gedung sembilan lantai di Angeles City itu ambruk pada Minggu (24/5) sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat setelah diterjang badai hebat. Ratusan petugas evakuasi dari kepolisian dan pemadam kebakaran dikerahkan dalam proses penyelamatan. Menurut Sajili, awalnya 17 orang dilaporkan hilang, namun jumlah itu berkurang setelah salah satu dari mereka menghubungi pihak berwenang pada Senin (25/5) untuk mengonfirmasi bahwa ia tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Sebagian besar dari 16 orang yang masih hilang merupakan pekerja konstruksi yang sedang tidur di lokasi proyek ketika bangunan runtuh.

Penyelidikan kini tengah dilakukan untuk mengungkap penyebab runtuhnya gedung tersebut, termasuk dugaan pelanggaran izin konstruksi. Departemen Tenaga Kerja Filipina sebelumnya pernah menghentikan pekerjaan di lokasi itu pada September 2025. Geraldine Panlilio, pejabat Dinas Tenaga Kerja Regional, mengungkapkan bahwa inspektur tenaga kerja menemukan sejumlah pelanggaran standar keselamatan kerja. “Kami menemukan kondisi kerja yang buruk, sebuah pelanggaran yang dapat membahayakan pekerja,” katanya dalam wawancara di stasiun radio DZMM di Manila.

Panlilio menambahkan, para pekerja kekurangan perlengkapan keselamatan seperti helm, sepatu bot, sabuk pengaman, dan tali pengaman. Mereka juga bekerja dengan pencahayaan yang buruk dan tanpa rambu keselamatan yang memadai. Pekerjaan konstruksi baru diizinkan kembali sebulan setelah penghentian tersebut, setelah kontraktor dinyatakan telah memenuhi persyaratan keselamatan.

Sementara itu, Rosenda, ibu dari Evelyn Alicaway, berharap perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek tersebut segera mengambil langkah nyata. “Kami berharap pemilik perusahaan akan bertanggung jawab dan menangani masalah yang menimpa para pekerja. Keluarga-keluarga mereka juga sedang menderita. Ini bukanlah yang kami inginkan, tetapi mereka perlu berkoordinasi dengan kami,” ujarnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar