Selasa lalu, di Grha Pertamina Jakarta, suasananya terasa berbeda. Di tengah berita-berita tentang ketegangan geopolitik yang memanas, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, justru menyampaikan optimisme. Perusahaan pelat merah ini bertekad untuk tetap tumbuh, meski dunia dilanda gejolak pasokan dan harga energi yang sulit ditebak.
Simon mengakui, tahun 2025 penuh dengan ujian. “Tekanan ekonomi global, volatilitas harga energi, sampai kompleksitas operasional yang makin tinggi, semuanya kami hadapi,” ujarnya.
Tapi, menurutnya, Pertamina justru berdiri lebih kokoh. “Di tengah semua itu, Pertamina tetap menjadi garda terdepan penopang kehidupan masyarakat. Ini menegaskan bahwa kami bukan hanya entitas bisnis, tetapi juga bagian dari solusi bagi bangsa Indonesia,” tegas Simon.
Nah, untuk menghadapi tahun 2026, mereka sudah menyiapkan peta jalan. RKAP 2026 dirancang dengan mempertimbangkan dinamika global yang berpotensi mengacaukan sektor energi. Konflik di Timur Tengah dan tekanan di jalur strategis seperti Selat Hormuz jadi faktor utama yang bikin pasar energi global jadi makin fluktuatif.
Lalu, strateginya apa saja? Simon merincikan lima poin kunci. Pertama, disiplin biaya harus dijaga ketat di semua lini. Kedua, operasional harus ditingkatkan keandalan dan efisiensinya. Ketiga, investasi akan dilakukan secara selektif, hanya untuk proyek-proyek yang benar-benar strategis. Keempat, organisasi harus lebih lincah dan responsif. Dan yang kelima, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak.
Menariknya, Pertamina justru melihat tantangan ini sebagai peluang. Misalnya, dengan mendorong efisiensi dan meningkatkan utilisasi kilang. Langkah ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan produk energi berkualitas mereka.
Artikel Terkait
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan