Kabut pagi di Halmahera Tengah belum sepenuhnya sirna ketika ketegangan memuncak antara dua desa. Di Kecamatan Patani Barat, warga Desa Banemo dan Desa Sibenpopo terlibat bentrok yang berujung pada pembakaran sejumlah rumah. Situasi mencekam itu langsung menarik perhatian penuh aparat.
Namun begitu, Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Waris Agono, dengan tegas membantah narasi yang beredar. Menurutnya, akar masalahnya sama sekali bukan persoalan sensitif SARA. "Ini bukan konflik suku atau agama," tegasnya. Penegasan itu disampaikan untuk meredam informasi-informasi liar yang justru memanaskan situasi.
Lantas, apa pemicu sebenarnya? Dari penelusuran polisi, semua berawal dari sebuah kabar burung. Beredar isu bahwa seorang korban selamat dari kejadian sebelumnya menuding warga Sibenpopo sebagai pelakunya. Kabar itu menyebar cepat, memicu amarah.
Padahal, setelah dicek langsung, korban tersebut ternyata tak pernah mengucapkan tuduhan seperti itu.
Jelas Kabid Humas Polda Malut, Kombes Pol Wahyu Istanto Bram W, saat dikonfirmasi Kamis lalu. Dia menyayangkan aksi main hakim sendiri yang terjadi begitu cepat, dipicu hoaks yang belum jelas juntrungnya.
Di sisi lain, polisi menemukan fakta menarik di lapangan. Serangan itu ternyata tidak pandang bulu. Rumah-rumah warga Muslim di Sibenpopo juga ikut jadi sasaran api. Padahal, kalau mau membedakan, rumah warga Nasrani di sana biasanya ada tanda salibnya. Artinya, pelaku tampaknya tidak memilih berdasarkan latar belakang agama korban.
Artikel Terkait
Harga Plastik Melonjak Drastis, UMKM Makanan dan Minuman Tertekan
Ayah dan Anak di Agats Tewas Usai Saling Serang dengan Parang
BPBD DKI Tegaskan Semua ASN WFO, Tak Ada Pengecualian WFH
Oracle PHK Ribuan Karyawan demi Investasi AI, Tapi Gaji CFO Baru Capai Miliaran Rupiah