Serangan Udara di Beirut Bebani Sistem Kesehatan Lebanon yang Sudah Rapuh

- Jumat, 10 April 2026 | 08:45 WIB
Serangan Udara di Beirut Bebani Sistem Kesehatan Lebanon yang Sudah Rapuh

TVRINews – Beirut

Serangan Udara Masif Memperburuk Resesi dan Kelangkaan Pasokan Medis di Tengah Eskalasi Konflik

Infrastruktur kesehatan Lebanon benar-benar ambruk. Titik nadirnya sudah tercapai. Gelombang serangan udara yang mengguncang Beirut dan sekitarnya memaksa rumah sakit beroperasi jauh melampaui batas kemampuannya. Semua ini terjadi di tengah kondisi ekonomi negara yang sudah lama terpuruk, tentu saja.

Para tenaga medis punya satu peringatan keras: bencana kemanusiaan yang lebih dalam akan segera terjadi. Pasokan bahan medis vital kian menipis, sementara pemadaman listrik terus berlangsung tanpa kepastian.

Suasana mencekam langsung terasa di Rumah Sakit American University of Beirut (AUB). Ruang gawat daruratnya penuh sesak.

Ratusan warga sipil memadati koridor. Di antara mereka, terlihat anak-anak yang terpisah dari orang tuanya. Mereka semua adalah korban dari serangan udara intensif yang dalam waktu singkat menghantam lebih dari seratus target berbeda.

“Kami menerima sekitar 76 orang terluka dalam waktu kurang dari satu jam. Enam di antaranya tidak berhasil diselamatkan,” ujar Dr. Salah Zeineldine, Kepala Medis AUB, kepada Al Jazeera.

Dia menegaskan, rumah sakitnya kini berfungsi sebagai pusat evakuasi utama bagi para korban.

Sistem Kesehatan yang Sudah Rapuh Terbebani

Data awal dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, dirilis Kamis lalu, menyebutkan korban tewas akibat serangan pada Rabu, 9 April 2026, telah mencapai 303 jiwa. Yang luka-luka lebih dari 1.150 orang.

Kementerian juga menyatakan, sedikitnya 110 dari korban tewas adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Angka yang memilukan.

Dr. Zeineldine menyoroti fenomena tragis lainnya: banyak pasien kritis adalah anak-anak, bahkan ada bayi yang baru berusia beberapa minggu. Mayoritas cedera yang ditangani berupa trauma tumpul dan patah tulang, akibat tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur oleh ledakan.

Memang Lebanon tak asing dengan krisis. Tapi intensitas serangan kali ini benar-benar lain. “Ini tantangan besar, terutama bagi kami di Beirut. Kami belum pernah kehilangan begitu banyak orang dalam satu hari. Intensitas seperti ini belum pernah kami alami sebelumnya,” tambahnya.

Dampak Ekonomi dan Krisis Energi yang Menyertainya

Di sisi lain, konflik ini seperti mempercepat laju krisis ekonomi Lebanon yang sudah berlarut sejak 2019. Sektor medis jadi salah satu yang paling terpukul, terhambat oleh pembatasan ekspor-impor dan lonjakan harga minyak global akibat ketegangan regional.

Dr. Alain Kortbaoui, Kepala Departemen Pengobatan Darurat di RS Geitawi, mengaku stok obat-obatan mereka mulai habis.

“Impor obat-obatan sudah terhenti. Kami bahkan tidak bisa memastikan kapan bisa menyembuhkan pasien yang sudah ada di sini,” tuturnya.

Masalah lain adalah ketergantungan rumah sakit pada generator listrik. Ini jadi titik lemah yang krusial. Harga bahan bakar melonjak, biaya operasional membengkak, sementara daya beli masyarakat hancur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperingatkan, beberapa rumah sakit di Lebanon bisa kehabisan paket medis trauma penyelamat nyawa hanya dalam hitungan hari.

“Perang Tanpa Aturan”

Di Rumah Sakit Hotel-Dieu de France, Dr. Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menggambarkan situasi ini tak ubahnya “mimpi buruk”. Menurut pengamatannya, serangan yang terjadi tanpa peringatan ini jelas bertujuan menimbulkan kerusakan maksimal pada warga sipil.

“Mereka menyerang banyak wilayah secara bersamaan, dan mereka menyerang dengan keras untuk menimbulkan bahaya, untuk menimbulkan rasa sakit. Ini adalah perang tanpa aturan. Perang tanpa batas,” tegas Dr. Zoghbi.

Solidaritas warga lokal, seperti donor darah, memang tinggi. Namun begitu, para ahli sepakat inisiatif lokal saja tak akan cukup menahan beban jika eskalasi terus berlanjut dalam jangka panjang. Bagi Dr. Zeineldine, solusi untuk menyelamatkan sistem kesehatan Lebanon yang sekarat ini cuma satu.

“Hentikan perang.”


Editor: Redaksi TVRINews

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar