Pengurus Gereja Misi Sejahtera (GMS) Bantul menyerukan kepada seluruh jemaat untuk tidak melakukan tindakan balasan atas insiden pembubaran ibadah yang terjadi pada pekan lalu. Seruan ini disampaikan sebagai upaya menjaga ketenangan dan mengedepankan penyelesaian secara damai.
Humas GMS Bantul, Eko, mengungkapkan bahwa jajaran penggembalaan telah merespons peristiwa tersebut dengan mengajak seluruh jemaat di mana pun berada untuk membawa situasi ini dalam doa syafaat. Selain itu, jemaat juga diminta berdoa agar mereka tetap dikuatkan dan teguh di dalam iman.
“GMS juga menyerukan kepada semua pihak untuk tidak membalas kejadian tersebut dengan perpecahan. Sebaliknya, jalan damai dan hukum yang harus ditegakkan, diiringi dengan doa agar situasi di Bantul segera kondusif dan jemaat dapat kembali beribadah dengan tenang,” kata Eko, Selasa (26/5/2026).
Di sisi lain, Eko menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul yang dinilai responsif dalam menangani kasus ini. Menurutnya, Pemkab Bantul menyarankan agar persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum.
“GMS Bantul menyerahkan penanganan atas insiden ini kepada pihak yang berwenang agar diselesaikan sesuai dengan koridor hukum,” ucapnya.
Peristiwa pembubaran ibadah itu terjadi pada Minggu (24/5/2026). Informasi mengenai insiden tersebut ramai beredar di media sosial setelah sebuah akun mengunggah narasi tentang pembubaran ibadah di salah satu gereja di Sewon, Bantul, yang diduga dilakukan oleh oknum organisasi kemasyarakatan (ormas).
“Lagi dan lagi, hari ini saya mendapatkan laporan tentang adanya pembubaran ibadah paksa yang dialami oleh Jemaat Gereja GMS Bantul oleh oknum-oknum intoleran, bahkan sampai memakai kekerasan. Tolong diatensi,” tulis akun Instagram @davidherson_official.
“Apa mereka lupa bahwa negara ini menjamin sesuai dengan Pasal 29 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa setiap warga negara berhak untuk beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing? Mohon perhatiannya dan tindak secara tegas oknum-oknum intoleran tersebut,” lanjut unggahan akun tersebut.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bantul, Yulius Suharta, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengakui bahwa pihaknya telah berupaya melakukan antisipasi terhadap potensi pergerakan kelompok tertentu, namun insiden tetap terjadi.
“Kami sudah mencoba untuk mengantisipasi, tapi memang faktanya kemarin terjadi pergerakan di tempat kegiatan GMS seperti itu,” ucapnya.
Artikel Terkait
Rusia Tingkatkan Serangan ke Kyiv, Targetkan Pusat Pengambilan Keputusan
Gubernur Jateng Raih Penghargaan Pendidikan dari Kemendikdasmen atas Wajib Belajar 13 Tahun dan Inovasi Digital
Ribuan Buruh Indomaret Demo di PIK Tolak Penggantian Upah Lembur dengan Hari Libur
Terapis Spa di Surabaya Didakwa Gelapkan Uang Rekan Kerja Rp1,2 Miliar Lewat Kartu ATM di Casing Ponsel