PLN Ungkap Kronologi Blackout Sumatera: Cuaca Ekstrem Picu Gangguan Transmisi dan Domino Effect

- Selasa, 26 Mei 2026 | 11:30 WIB
PLN Ungkap Kronologi Blackout Sumatera: Cuaca Ekstrem Picu Gangguan Transmisi dan Domino Effect

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akhirnya membeberkan kronologi di balik pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pekan lalu. Peristiwa itu dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda Provinsi Jambi, yang kemudian memicu kerusakan pada infrastruktur kabel transmisi milik perusahaan pelat merah tersebut.

Direktur Transmisi PLN, Edwin Nugraha Putra, mengungkapkan bahwa gangguan pertama kali terdeteksi pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 18.44 WIB. “Terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Ini merupakan inputan menuju jalur 500 kV yang ada di bagian timur,” jelasnya dalam keterangan resmi pada Selasa (26/5/2026).

Sistem kelistrikan di Sumatera sendiri terbagi dalam dua jalur distribusi utama. Jalur selatan melayani wilayah Palembang dan Lampung, sementara jalur utara memasok kebutuhan listrik ke Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh. Di sisi timur, terdapat jalur bertegangan 500 kV, sedangkan di sisi barat bertegangan 275 kV.

Namun, gangguan yang terjadi pada jalur 500 kV menyebabkan distribusi listrik keluar dari sistem. Akibatnya, arus listrik dalam jumlah besar dari wilayah timur berpindah secara tiba-tiba ke jalur selatan yang hanya memiliki kapasitas distribusi 275 kV. “Nah, perpindahan arus tersebut menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu,” ujar Edwin.

Fenomena osilasi ini diduga dipicu oleh cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang. Untuk mencegah meluasnya gangguan, PLN mengambil langkah darurat dengan mengisolasi jalur selatan 275 kV. Keputusan ini dinilai tepat karena berhasil membatasi dampak pemadaman hanya pada wilayah Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh. Sementara itu, Palembang dan Lampung tetap dalam kondisi normal.

“Ada beberapa pembangkit yang kemudian trip, lalu ada defense scheme (tindakan proteksi) kami yang bekerja sehingga sistem di sisi selatan kemudian normal. Tidak ada pemadaman di daerah Lampung dan sebagian besar daerah Palembang,” papar Edwin.

Di sisi lain, kondisi di wilayah utara justru sebaliknya. Setelah pemisahan jalur, wilayah tersebut mengalami kekurangan pasokan dari pembangkit sehingga frekuensi listrik menurun drastis. “Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect,” sambungnya.

Proses pemulihan pun dilakukan secara bertahap. PLN terlebih dahulu memeriksa data di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) untuk memastikan kondisi transmisi telah pulih. “Ketika sistem transmisi normal, maka berikutnya kami beralih ke sistem pembangkitan,” tuturnya.

Edwin menjelaskan bahwa pembangkit listrik di Sumatera terbagi dalam tiga kategori berdasarkan waktu penyalaan kembali. Pertama, pembangkit diesel dan gas yang mampu menyala mandiri dalam waktu sekitar lima jam. Kedua, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) yang membutuhkan waktu hingga 15 jam. Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tersebar di Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, dan Aceh memerlukan waktu paling lama, yakni 20 hingga 30 jam untuk dapat beroperasi kembali.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar