“Beliau sering memberi saran dan masukan kepada para alumni. Bukan hanya Gontor yang kehilangan, tetapi Indonesia juga kehilangan sosok beliau,” ujarnya.
Pandangan serupa diungkapkan Hamid Fahmi Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor. Ia menekankan bahwa perjuangan almarhum memberikan fondasi hukum yang kuat bagi dunia pesantren.
“Perjuangan beliau membuat pesantren memiliki payung hukum,” tegas Hamid.
“Lulusan pondok kini dapat melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa harus melalui ujian negara. Ini jasa besar yang harus terus kita ingat dan lanjutkan,” lanjutnya.
Usai shalat jenazah yang khidmat, prosesi berlanjut ke pemakaman. Diiringi doa dan linangan air mata, jenazah almarhum kemudian dibawa ke peristirahatan terakhirnya di kompleks makam keluarga pesantren. Suasana hening menyelimuti, hanya terdengar lirisan doa dan langkah para pelayat yang melepas kepergian seorang guru bangsa.
Artikel Terkait
Ketika Cinta Terasa Melelahkan: Mengurai Rasa Takut Kehilangan yang Diam-Diam Menggerogoti
Al-Quran dan Sains: Dusta Pejabat Bisa Picu Gangguan Kesehatan?
Parkir Informal Menggurita di Sekitar Stasiun, Tarif Resmi Ditinggalkan
Komedi yang Jinak: Ketika Tawa Tak Lagi Menggugat