Nasdem Dorong Situs Patiayam Kudus Jadi Cagar Budaya Nasional

- Selasa, 24 Februari 2026 | 14:30 WIB
Nasdem Dorong Situs Patiayam Kudus Jadi Cagar Budaya Nasional

Jeep itu melaju perlahan menyusuri jalan setapak di antara hamparan sawah. Tujuannya jelas: Bukit Patiayam di Kudus. Di dalamnya, Saan Mustopa, Wakil Ketua DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Nasdem, tengah menuju lokasi yang ia tinjau langsung siang itu. Kunjungannya bukan sekadar seremonial. Ada misi penting: mendorong Situs Purbakala Patiayam untuk naik kelas, dari cagar budaya daerah menjadi nasional.

Ia tak sendirian. Dalam rombongan itu, hadir Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR dari Fraksi Nasdem. Sebelumnya, mereka baru saja membagikan ribuan paket sembako dalam rangka Safari Ramadan. Tapi agenda utamanya justru baru dimulai.

“Memang kunjungan ke Kudus, selain bakti sosial, sengaja kita berkunjung ke Situs Patiayam,” ujar Lestari kepada para wartawan yang menunggu di lokasi.

Kalimatnya tegas, menegaskan bahwa kunjungan ini punya bobot. Di atas bukit, mereka menyaksikan langsung replika kerangka gajah purba, Elephas namanya. Suasana situs itu sendiri sunyi, dikelilingi persawahan, menyimpan ribuan fragmen sejarah dalam perut buminya.

Menurut Lestari, nilai sejarah Patiayam sudah tak diragukan lagi. Bahkan para peneliti besar macam Raden Saleh dan Eugene Dubois sudah menjejakkan kaki di sini sejak abad ke-19. “Dan sudah diteliti sejak abad 19, Raden Saleh pernah ke sini, Dubois pernah ke sini,” jelasnya.

Namun begitu, status nasional masih menjadi pekerjaan rumah. Lestari mengaku sudah mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Persoalannya kini ada di administrasi. “Karena secara keilmuan sudah memenuhi syarat,” katanya, “hanya ada ketentuan administrasi, Patiayam ini di dua kabupaten harus diselesaikan.”

Di sisi lain, ambisi menjadikan situs ini sebagai destinasi nasional bukan tanpa alasan. Lestari membayangkan dampak positifnya bagi warga sekitar. Dari sektor pariwisata hingga penguatan ekonomi lokal. Ia bahkan menyoroti peran komunitas jeep yang sudah aktif memandu wisatawan. “Mereka bisa bercerita,” ujarnya, mengapresiasi.

Tapi tentu saja, semua itu harus seimbang dengan upaya pelestarian. Lestari tak mau Bukit Patiayam mengalami nasib buruk seperti beberapa wilayah lain. “Kita jaga tidak terjadi suatu proses penggundulan,” tegasnya. Kekhawatiran itu nyata, dan jadi perhatian serius.

Sementara Saan Mustopa, usai meninjau, punya pemikiran yang nyaris sama. Baginya, menjaga situs berarti juga menjaga lingkungan bukit tempatnya berpijak. “Kita harus perhatian khusus bukit ini supaya terjaga,” ucap Saan.

Ia bahkan sudah punya rencana konkret. “Makanya penting terkait dengan reboisasi,” lanjutnya. “Nanti coba kita diskusi dengan Kementerian Kehutanan sehingga sekitar situs Patiayam dijaga.”

Rencana reboisasi itu bukan sekadar menanam pohon. Saan ingin pohon yang ditanam punya nilai ekonomis, memberi manfaat langsung bagi masyarakat. “Mungkin nanti pohon ditanam, nilai ekonomisnya untuk masyarakat, akan kita komunikasikan,” pungkasnya.

Jadi, selain memperjuangkan status nasional, upaya menjaga kelestarian alam di sekitar situs menjadi komitmen paralel. Keduanya berjalan beriringan. Harapannya jelas: warisan purbakala ini tak hanya jadi catatan sejarah, tapi juga berkah hidup bagi warga yang menjaganya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar