Wamendagri: Dai dan Ulama Diharapkan Jadi Penggerak Sosial di Wilayah Perbatasan

- Jumat, 10 April 2026 | 00:30 WIB
Wamendagri: Dai dan Ulama Diharapkan Jadi Penggerak Sosial di Wilayah Perbatasan

Wamendagri: Ulama Jadi Penggerak Sosial di Perbatasan

JAKARTA Kawasan perbatasan punya cerita sendiri. Terpencil, seringkali tertinggal. Tapi bagi pemerintah, wilayah-wilayah ini justru jadi prioritas utama. Dan dalam upaya membangunnya, peran ulama atau dai dinilai sangat krusial. Bukan cuma soal ceramah agama, tapi lebih dari itu.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menegaskan posisi strategis para dai. Menurutnya, mereka adalah penggerak sosial yang bisa membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat, terutama di daerah seperti Kabupaten Sambas.

“Para dai harus ikut mendorong kemandirian ekonomi, kemandirian pangan, hingga kemandirian di berbagai sektor kehidupan masyarakat,”

ucap Wiyagus dalam sebuah seminar bertajuk sinergitas dai untuk pembangunan perbatasan, Kamis lalu.

Dia bilang, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memang serius menangani wilayah perbatasan. Berbagai program strategis digulirkan. Ambil contoh Program Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, atau Koperasi Desa Merah Putih. Semua itu digeber untuk mempercepat kemajuan.

‘’Program-program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga perbatasan secara berkelanjutan,’’ tegasnya.

Di sisi lain, pendekatannya juga berubah. Nur Kholis, Kelompok Ahli BNPP RI, menyebut pengelolaan perbatasan Indonesia tak lagi cuma soal keamanan. Sudah bergeser.

“Indonesia tidak membangun tembok di perbatasan, tetapi membangun kesejahteraan. Batas negara harus tegas dari sisi kedaulatan, namun dari sisi ekonomi, perbatasan justru harus menjadi penopang penguatan ekonomi masyarakat kedua negara,”

jelas Nur Kholis.

Itulah inti dari pendekatan ganda yang diusung: keamanan dan kesejahteraan sekaligus. BNPP RI sendiri berperan sebagai koordinator utama untuk urusan batas wilayah, baik darat maupun laut.

Dengan paradigma baru ini, pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) punya makna ganda. Bukan sekadar simbol kedaulatan, tapi juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru. Wilayah perbatasan tak boleh lagi dipandang sebagai daerah terisolasi. Visinya jelas: menjadikannya beranda depan negara yang maju dan makmur.

Potensinya sebenarnya besar. Mulai dari pertanian, perikanan, sampai pariwisata dan perdagangan lintas batas. Tinggal bagaimana mengoptimalkannya. Dan dalam skema besar itu, peran dai sebagai penggerak di lapangan dinilai tak tergantikan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar