Minyak atau Narkoba? Motif Tersembunyi di Balik Penangkapan Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 10:54 WIB
Minyak atau Narkoba? Motif Tersembunyi di Balik Penangkapan Maduro

Alasan di balik penangkapan Nicolas Maduro oleh pemerintahan Trump mulai dipertanyakan. Presiden Venezuela itu ditangkap atas tuduhan terlibat dalam terorisme narkoba dan perdagangan gelap narkoba. Tapi, benarkah itu motif sebenarnya?

Menurut anggota DPR AS Jake Auchincloss dari Partai Demokrat, narasi soal narkoba itu tidaklah tepat. Ia dengan tegas menyatakan bahwa krisis overdosis yang melanda Amerika justru bukan berasal dari Venezuela.

"Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba," kata Auchincloss, Minggu (4/1).

"Narkoba sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh warga Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China," tambahnya.

Pernyataannya itu mengarah pada satu hal: minyak. Venezuela memang duduk di atas cadangan minyak terbesar di dunia, meski produksinya kini jauh dari masa kejayaan. Pada tahun 2000, negeri itu bisa memproduksi 3,2 juta barel per hari. Kini, angka itu merosot drastis.

Produksi November lalu hanya sekitar 921.000 barel per hari. Sanksi internasional yang membelit negara itu jelas menjadi penyebab utama. Akibatnya, sebagian besar minyak Venezuela sekarang mengalir ke China.

Di sisi lain, pernyataan Trump sendiri sebelumnya menguatkan kecurigaan ini. Ia pernah menyebut AS akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela dan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk berinvestasi besar-besaran di sana.

"Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia," ujar Auchincloss, menyimpulkan pandangannya.

Industri perminyakan Venezuela saat ini dikendalikan oleh perusahaan negara, PDVSA. Namun, ada satu perusahaan AS yang masih bisa beroperasi di tengah sanksi: Chevron. Berdasarkan pengecualian khusus dari Departemen Keuangan, Chevron masih melakukan pengeboran dan membayarkan sebagian hasilnya kepada PDVSA.

Bagi Auchincloss, keberadaan Chevron ini bukanlah kebetulan.

"Chevron memiliki kontrak dan izin dari Departemen Keuangan untuk mengeksploitasi cadangan minyak tersebut. Dan presiden ini menepati janji kampanyenya kepada perusahaan minyak besar AS," katanya.

Jadi, di balik retorika perang melawan narkoba, ada aroma minyak yang kuat. Narasi resmi dari Gedung Putih mungkin satu, tetapi di lapangan, realitas politik dan ekonomi berbicara lain.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar