Presiden Iran Masoud Pezeshkian punya satu pesan tegas: serangan Israel ke Libanon harus berhenti. Titik. Ini bukan sekadar permintaan, melainkan syarat mutlak yang diajukan Teheran dalam draf kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Demikian ditegaskannya dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Rabu lalu. Menurutnya, tanpa penghentian agresi itu, stabilitas kawasan Timur Tengah bakal sulit tercapai.
“Penghentian serangan Israel di Libanon termasuk di antara 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu, Kamis (9/4/2026).
Dalam pembicaraan itu, Pezeshkian juga menyoroti peran Prancis. Dia melihat Paris punya posisi strategis, mengingat keterlibatannya sebagai penjamin gencatan senjata sebelumnya di Lebanon. Keterlibatan pihak internasional semacam itu, katanya, penting agar kesepakatan benar-benar dihormati semua pihak.
Iran sendiri, menurut Pezeshkian, telah menunjukkan sikap bertanggung jawab dengan menerima usulan gencatan senjata. Langkah ini disebutnya sebagai bukti niat baik Teheran untuk mendorong perdamaian.
Tapi di lapangan, ceritanya lain sama sekali.
Percakapan kedua pemimpin itu terjadi cuma sehari setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata sementara untuk dua minggu. Tujuannya mulia: menghentikan perang yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak akhir Februari. Namun, di hari yang sama tepatnya Rabu tentara Israel justru melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran di seluruh wilayah Libanon.
Akibatnya parah. Data dari Pertahanan Sipil Libanon mencatat korban jiwa mencapai sedikitnya 254 orang. Sementara yang luka-luka lebih dari seribu, tepatnya 1.165 orang. Situasi ini jelas bertolak belakang dengan semangat gencatan senjata yang baru saja diumumkan.
Lalu di mana masalahnya? Rupanya, ada perbedaan interpretasi yang tajam soal wilayah yang tercakup dalam kesepakatan. Pejabat Iran dan Pakistan bersikeras bahwa Libanon masuk dalam lingkup perjanjian. Sementara Israel bersikukuh sebaliknya Libanon bukan bagian dari kesepakatan itu.
Perbedaan pandangan ini, tentu saja, mengundang kekhawatiran. Apalagi konflik yang sudah memanas ini berpotensi melebar dan menggagalkan upaya diplomasi yang sudah dibangun.
Konteks Global: Upaya gencatan senjata ini merupakan bagian dari tekanan internasional terhadap eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan proksinya, yang telah mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi global sejak awal tahun 2026.
Artikel Terkait
Penembakan di Kampus Universitas Iowa, Sejumlah Korban Dievakuasi
Dua Pelaku Penikaman Ketua Golkar Maluku Tenggara Ditangkap Dua Jam Setelah Kejadian
Delegasi Jepang Apresiasi Program Keterampilan untuk Bekal Narapidana di Bapas Jakarta Barat
Uya Kuya Laporkan Akun Penyebar Hoaks Tuduhan Punya 750 Dapur MBG ke Polda