Angin Kencang Diduga Jadi Pemicu Utama Blackout Listrik di Sumatera

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 04:30 WIB
Angin Kencang Diduga Jadi Pemicu Utama Blackout Listrik di Sumatera

Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sistem kelistrikan Sumatera diduga kuat dipicu oleh tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi, khususnya di titik sambungan kabel atau mid span jointing. Dugaan ini mengemuka setelah serangkaian investigasi awal yang melibatkan Bareskrim, Puslabfor, dan PT PLN (Persero) mengidentifikasi tiga kemungkinan penyebab utama putusnya kabel transmisi, yakni stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis dari beban dan pengaruh angin.

Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Darwanto, menilai faktor cuaca memiliki peran signifikan dalam peristiwa tersebut. Menurutnya, karakteristik gangguan yang terjadi mengarah pada tekanan mekanis di area sambungan konduktor transmisi. “Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujarnya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Djoko menjelaskan bahwa masyarakat kerap menilai kondisi cuaca berdasarkan apa yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, pada ketinggian konduktor transmisi, kecepatan angin bisa jauh lebih besar dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus. “Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” katanya.

Pergerakan berulang akibat terpaan angin, lanjut Djoko, dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi. Titik putus yang diketahui berada di area mid span jointing sambungan di tengah bentangan kabel transmisi menjadi perhatian khusus. Area tersebut merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus. “Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” ujarnya.

Sementara itu, hasil inspeksi termal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak serta-merta bertentangan dengan terjadinya blackout. Menurut Djoko, gangguan akibat kombinasi cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu memunculkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi termal rutin menggunakan drone. “Kalau sebelumnya hasil drone termal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan guna dianalisis lebih lanjut. Menurut Djoko, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan berantai. Hal itu terjadi karena pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan. “Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar