Kondisi PSM Makassar saat ini benar-benar memprihatinkan. Begitulah penilaian Syamsuddin Umar, sosok legenda di klub itu yang pernah menjadi pemain sekaligus pelatih. Menurutnya, Juku Eja sedang berada di posisi kritis dan harus berjuang mati-matian untuk menjauh dari jurang degradasi.
Bicara dari kediamannya di Jalan Skarda, Makassar, Jumat lalu, Syamsuddin menekankan satu hal: PSM belum punya catatan terdegradasi dari liga top Indonesia. "Ini kondisi yang memprihatinkan, jalan keluar harus segera ditemukan," ujarnya.
Nada suaranya terdengar khawatir. Bagaimana tidak? Dari 26 laga yang sudah dijalani, timnya cuma menang 5 kali. Hasil imbang 10, kalah 11. Koleksi 25 poin itu cuma cukup untuk menduduki peringkat ke-13 klasemen sementara Liga 1 BRI.
Di sisi lain, laga tandang melawan PSIM Mataram sore nanti adalah kesempatan emas. Syamsuddin berharap timnya berjuang keras meraih kemenangan dan menambah tiga poin penting. Setiap angka sangat berharga di tengah keterpurukan seperti sekarang.
"Pemain PSM itu profesional, punya skill, jiwa kompetitif tinggi. Mereka hasil seleksi ketat," katanya.
Tapi dia mengingatkan, ada tanggung jawab lebih yang harus dipikul. "Mereka wajib jaga nama baik PSM. Klub ini adalah pemersatu, kebanggaan, sekaligus harga diri masyarakat Sulsel," tegas pelatih yang pernah membawa PSM juara liga perserikatan 1992-1993 itu.
Memang, persaingan di papan bawah Liga 1 begitu sengit. PSM harus berjibaku dengan sesama klub yang juga terancam, seperti Persijap Jepara, Persis Solo, dan Madura United. Semuanya berjuang untuk naik peringkat dan menghindari zona merah.
Sementara di puncak, klub-klub seperti Persib, Borneo FC, dan Persija saling sikut memperebutkan gelar juara. Dua dunia yang sangat berbeda.
Syamsuddin melihat, sisa delapan pertandingan musim ini masih memberi peluang. Beberapa lawan PSM, sebut saja Persik, Arema, dan Madura United, juga sedang dalam kondisi tidak jauh lebih baik. "Pemain dan pelatih harus usaha sekuat tenaga raih poin," tambahnya.
Menurut analisanya, masalah PSM juga dipicu oleh dinamika internal. Pergantian pelatih dari Bernardo Tavares ke Tomas Trucha di Oktober tahun lalu ikut menambah sengkarut. Jika berhasil selamat musim ini, dia menilai manajemen dan pelatih harus serius membenahi tim agar lebih tangguh.
Pengalaman pahitnya dulu menjadi pelajaran. Saat PSM kalah di final perserikatan melawan Persib Bandung tahun 1994, rumahnya malah diteror orang tak dikenal. Cibiran dari rekan dan tetangga pun tak terhindarkan.
Dia membayangkan, degradasi akan membawa dampak yang jauh lebih buruk. "Itu akan jadi sejarah kelam. Tidak hanya untuk pemain, tapi juga dirasakan suporter, warga Makassar dan Sulsel. Akan diingat selalu," ujar mantan asisten pelatih timnas Indonesia ini.
"Klub dan orang-orang di dalamnya bisa terkena sanksi sosial dari masyarakat."
Tekanannya nyata. Dan waktu untuk berbenah hampir habis.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok