Di sisi lain, pernyataan Trump sendiri sebelumnya menguatkan kecurigaan ini. Ia pernah menyebut AS akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela dan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk berinvestasi besar-besaran di sana.
"Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia," ujar Auchincloss, menyimpulkan pandangannya.
Industri perminyakan Venezuela saat ini dikendalikan oleh perusahaan negara, PDVSA. Namun, ada satu perusahaan AS yang masih bisa beroperasi di tengah sanksi: Chevron. Berdasarkan pengecualian khusus dari Departemen Keuangan, Chevron masih melakukan pengeboran dan membayarkan sebagian hasilnya kepada PDVSA.
Bagi Auchincloss, keberadaan Chevron ini bukanlah kebetulan.
"Chevron memiliki kontrak dan izin dari Departemen Keuangan untuk mengeksploitasi cadangan minyak tersebut. Dan presiden ini menepati janji kampanyenya kepada perusahaan minyak besar AS," katanya.
Jadi, di balik retorika perang melawan narkoba, ada aroma minyak yang kuat. Narasi resmi dari Gedung Putih mungkin satu, tetapi di lapangan, realitas politik dan ekonomi berbicara lain.
Artikel Terkait
Ahok Buka Suara Soal Pemilihan Diatur yang Bikinnya Cabut dari Partai
Enam Nelayan Indonesia Akhirnya Pulang Usai Terdampar di Perairan Timor Leste
Komedikrasi: Ketika Kekuasaan Sibuk Mengelola Kesan, Lupa Mengelola Substansi
Eksepsi Ditolak, Sidang Kasus Penghasutan di Media Sosial Lanjut ke Tahap Pembuktian